Hukum

Imigrasi Palembang buru imigran Afghanistan yang kabur

Palembang (Medianusantara.co) – Petugas Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Palembang di Sumatera Selatan masih terus memburu lima imigran tidak sah asal Afghanistan yang kabur dari ruang tahanan (detensi imigrasi) Minggu (5/2) subuh.

“Saat ini petugas Imigrasi dibantu aparat kepolisian terus melakukan pencarian imigran illegal yang ditangkap di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang 29 Januari lalu, saat akan mencari suaka ke perwakilan UNHCR di Jakarta,” kata Kepala Seksi Wasdakim, Tel Maizul Syatri, didampingi Kasi Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian, Ian F Markos, di Palembang, Selasa.

Menurut Tel Maizul, petugas telah memperketat pintu-pintu keluar dan melakukan pencarian di penginapan, losmen, rumah kos, hotel, serta tempat-tempat yang diperkirakan menjadi lokasi persembunyian imigran illegal itu, namun hingga Selasa ini belum juga ditemukan.

Diperkirakan mereka masih berada di Palembang dan pelariannya menuju Jakarta sesuai dengan tujuannya masuk ke Indonesia, untuk mencari suaka melalui perwakilan UNHCR yang ada di ibu kota negara itu, kata dia lagi.

Dia menjelaskan, sebenarnya Imigrasi Palembang telah berkoordinasi dengan petugas International Organization for Migration (IOM) untuk memfasilitas warga Afghanistan itu memproses suakanya ke UNHCR yang ada di Jakarta.

Tiket pesawat ke Jakarta sudah dipesan untuk pemberangkatan Senin (6/2), namun sayangnya lima imigran Afghanistan itu tidak sabar dan memilih untuk melarikan diri dari ruangan Detensi Imigrasi, ujar dia.

Sebelumnya, petugas Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas I Palembang, Minggu (29/1) sekitar pukul 18.00 WIB, mengamankan lima warga negara Afghanistan, karena tidak memiliki dokumen keimigrasian.

Warga negara asing itu diamankan saat akan terbang ke Jakarta melalui Bandara SMB II Palembang.
Identitas kelima warga negara asing yang diamankan itu adalah Muhammad Nauruzy (lahir di Ghazny, Afghanistan, 9 Januari 1985), Ali Riza (lahir di Ghazny, 1973), Kul Muhammad (lahir di Ghazny, 1996), Shodiq Husin (lahir di Ghazny, 10 September 1995), dan Nuruz Ali (lahir di Ghazny, Afgha

nistan, 1982).

Berdasarkan pengakuan, mereka datang dari negaranya, Afghanistan, dengan rute Afghanistan-Pakistan-Thailand menggunakan pesawat, dan dari Thailand-Malaysia menggunakan angkutan bus.

Sedangkan dari Malaysia menggunakan speed boat masuk ke Indonesia melalui Kepulauan Riau tanpa dokumen keimigrasian yang sah, dan melanjutkan perjalanan ke Palembang menggunakan bus antar kota antar provinsi (AKAP).

Setelah di Palembang, kelima warga negara Afghanistan tersebut akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan pesawat Lion Air, untuk mencari suaka ke perwakilan UNHCR di ibu kota negara Indonesia itu.

Namun, berkat informasi dari masyarakat dan kesigapan petugas Imigrasi di bandara, pihaknya berhasil menggagalkan masuknya warga negara asing ke wilayah Indonesia secara tidak sah (illegal), ujar Tel Maizul.

Setelah diintrogasi petugas Imigrasi di Bandara SMB II Palembang, dan warga Afghanistan itu tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasiannya, Minggu (29/1) malam diamankan dan ditempatkan di ruangan Detensi Imigrasi, Kantor Imigrasi, Jakabaring, Palembang, untuk diproses secara hukum lebih lanjut.

Sesuai dengan aturan dan UU Keimigrasian, warga negara asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa dilengkapi dokumen keimigrasian yang sah bisa dikenakan sanksi kurungan penjara atau dideportasi ke negara asalnya. (Antara)
Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan