Timur Tengah

Dianggap Mata-Mata, Dua Anggota Al-Qaida Yaman Dieksekusi

altAden (MediaNusantara.co) – Al-Qaida Yaman, yang aktif di wilayah selatan negara miskin itu, mengeksekusi dua anggotanya Minggu atas tuduhan memata-matai operasi mereka, kata beberapa saksi.

Kedua orang itu dituduh memasang alat pelacak di kendaraan rekan mereka yang juga anggota Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP) dan memberikan informasi kepada pihak berwenang Yaman dan badan-badan intelijen Arab Saudi serta AS, lapor AFP.

Seperti dikutip pada Antaranews.com, dua orang tersebut ditembak mati di tempat umum di depan puluhan warga setelah tuduhan terhadap mereka dibacakan.

Korban pertama yang diidentifikasi sebagai Yafii dieksekusi di Jaar di provinsi Abyan, sementara yang kedua, Ramzi al-Ariqi, ditembak mati di Azzan di daerah berdekatan Shabwa.


Pada hari Minggu juga, seorang perwira angkatan darat tewas dalam serangan penembakan di Al-Malah, di provinsi Lahij, Yaman selatan, kata seorang pejabat militer.

Kolonel Ahmed Naji dibunuh oleh orang-orang bersenjata ketika ia pergi dari pangkalan udara Al-Anad menuju kota Habilayn, kata pejabat itu.

Sejak protes anti-pemerintah meletus di Yaman pada akhir Januari 2011, militan memanfaatkan melemahnya kekuasaan pusat dengan membangun pangkalan di sejumlah provinsi selatan.

Pasukan keamanan Yaman selama beberapa bulan memerangi kelompok orang bersenjata yang dituduh sebagai anggota Al-Qaida di Abyan, Yaman selatan, khususnya di ibu kota provinsi itu, Zinjibar, yang sebagian besar dikuasai oleh militan sejak Mei.

Kekerasan menewaskan ratusan prajurit sejak militan bersenjata yang menamakan diri “Pengikut Sharia” menguasai sebagian besar Zinjibar, ibu kota provinsi Abyan, pada 29 Mei. Ratusan militan juga tewas dalam bentrokan-bentrokan.

Para pejabat keamanan mengatakan bahwa militan itu adalah Al-Qaida, namun oposisi politik menuduh pemerintah Presiden Ali Abdullah Saleh mengada-ada tentang ancaman jihad dengan tujuan menangkal tekanan Barat terhadap kekuasaannya yang telah berlangsung 33 tahun.

Pertempuran di Abyan itu berlangsung ketika protes massal yang menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh memasuki bulan kedua-belas, yang melumpuhkan sejumlah kota dan mendorong negara itu ke dalam ketidakpastian politik.

Saleh, yang berada di sebuah rumah sakit di Arab Saudi sejak Juni setelah ia cedera dalam serangan bom terhadap istananya di Sanaa, kembali ke Yaman pada 23 September dengan menjanjikan perdamaian.

Demonstrasi di Yaman sejak akhir Januari yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan ratusan orang.

Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaida, kehilangan dukungan AS.

Pemerintah AS mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara, menurut sebuah laporan di New York Times.

Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden, kata laporan itu.

Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaida akan menimbulkan “ancaman nyata” bagi AS.

Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.

Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.

Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan