Sepak Bola

FIFA cabut larangan jilbab dalam sepakbola

alt

MediaNusantara.Co – Pangeran Ali bin Al Hussein berharap reformasi di tubuh federasi sepakbola internasional, FIFA, akan terus berlanjut setelah pencabutan larangan berjilbab bagi pesepakbola putri.

Hal itu disampaikannya kepada kantor berita AP menjelang pertemuan anggota komite eksekutif FIFA di Zurich pekan depan.

Pangeran dari Yordania itu sejak tahun lalu menjadi wakil presiden FIFA, yang berperan langsung atas pencabutan larangan yang sudah ada sejak lima tahun lalu dan merupakan satu dari anggota komite Eksekutif FIFA yang berjumlah 24 orang.

Ia mengatakan pencabutan larangan adalah reformasi pertama yang dia lakukan dan dia ingin berbagai perubahan lain dalam kepengurusan persepakbolaan dunia.

Walau larangan pengenaan jilbab sudah ada sejak lima tahun dengan alasan keamanan yang mengenakannya, namun baru menjadi berita besar ketika terjadi pertandingan antara Yordania dan Iran pada bulan Juni tahun lalu.

FIFA menghentikan pertandingan kualifikasi Olimpiade London 2012 itu dan memberikan kemenangan 3-0 untuk Yordania karena pemain Iran turun ke lapangan mengenakan jilbab.

Karena tekanan PBB

Dalam pernyataan yang dikeluarkan, FIFA secara prinsip telah mencabut larangan namun masih akan menunggu hingga bulan Juli ketika pertemuan khusus dewan direktur diadakan untuk keputusan resminya.

FIFA mengubah pendiriannya setelah Pangeran Ali memperkenalkan sebuah contoh jilbab khusus untuk olahraga yang dibuat perusahaan Capsters dari Belanda. Jilbab khusus itu dianggap memenuhi semua standar keamanan yang dipersyaratkan FIFA.

Namun Annie Sugier, Presiden Liga Internasional untuk Hak Perempuan di Prancis, mengritik keputusan tersebut.

Menurutnya keputusan diambil lebih karena tekanan PBB terhadap FIFA dibanding alasan lain.

Wilfried Lemke -yang menjabat penasehat Sekjen PBB untuk urusan olahraga- memang menulis kepada Presiden FIFA, Sepp Blatter, agar perempuan berjilbab diperbolehkan bermain bola.

”Bisa dicari jalan keluarnya agar tidak melanggar aturan permainan maupun pertimbangan budaya, sementara pada saat bersamaan mempromosikan sepakbola tanpa diskriminasi,” begitulah isi suratnya.

Pangeran Ali mengatakan setelah persoalan Jilbab selesai dia masih ingin menangani persoalan korupsi yang dikatakan meraja lela di tubuh badan persepakbolaan itu. (BBC Indonesia)

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan