Bisnis

BP Migas : Produksi Migas Indonesia Sudah Turun Sejak 1996

altJakarta (MediaNusantara.co) – BP Migas menegaskan produksi migas Indonesia sudah turun sejak 1996, bukan sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan di kala itu belum ada ide untuk mengubah fungsi PT Pertamina (Persero). “Penurunan produksi sudah terjadi sejak 1996. Waktu itu belum ada ide sama sekali tentang fungsi Pertamina yang diubah,” ujarnya dalam acara Economic Challenges, Jumat 30 Maret 2012.

“Saat ini dikatakan satu institusi yang dibentuk, yaitu BP Migas dikelola kurang baik. Padahal BP Migas tidak pernah merugikan negara.” Priyono mengatakan BP Migas merupakan BHMN dan sebuah produk reformasi bangsa yang tidak mencari keuntungan. Sebelum reformasi, lanjutnya, Pertamina yang masih mengurus hulu migas berpotensi merugikan negara hingga US$7 miliar sekitar 1980-an, melebihi utang negara kala itu sebesar US$2 miliar. “Kami tidak punya aset, beda dengan dulu badan sebelum reformasi yang asetnya sampai sulit dibedakan. Jangan sampai semua produk reformasi diniliai semuanya buruk,” ujarnya.

Priyono mengatakan penurunan produksi migas dulu 13,6%. Sejak ada BP Migas, penurunan produksi migas bisa ditekan 2%. “Ini adalah kinerja instansi hasil reformasi,” tegas Priyono. Menurutnya, seringkali publik mengaitkan nilai cost recovery atau biaya produsen minyak yang diganti pemerintah yang terus naik tapi produksi migas terus turun.

Priyono mengatakan publik tidak disampaikan produksi gas nasional sesungguhnya terus naik. Rasio cost recovery selalu dikontrol oleh BP Migas 22-25% terhadap gross revenue migas. “Ada jaminan industri migas dikelola secara baik dan efisien. Migas merupakan satu komoditas yang strategis, bukan hanya sekedar fungsi ekonomi semata,” ujarnya. (Bisnis.com)
Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan