Bulu Tangkis

Hendra Setiawan Masih Ingin Ikut Olimpiade

altJakarta (MediaNusantara.co) – Perburuan poin untuk meraih tiket ke Olimpiade London 2012 yang dimulai sejak 2 Mei 2011 semakin mendekati masa batas akhir perhitungan pada tanggal 29 April 2012. Hanya ada kesempatan sebulan lagi untuk menambah poin agar bisa masuk pada peringkat Badminton World Federation (BWF) pada tanggal 03 Mei 2012 sebagai dasar perhitungan untuk meraih tiket ke olimpiade.

Peringkat terbaru yang dirilis BWF hari ini (Kamis, 29/03/12) tidaklah berbeda dengan peringkat yang dirilis pekan lalu setelah usainya Swiss Open Grand Prix Gold 2012. Melihat peringkat yang ada saat ini sedikitnya kita bisa mengetahui gambaran pebulutangkis kita yang menjadi harapan untuk mempertahankan tradisi emas buat Indonesia di ajang Olimpiade.

Dimulai di Barcelona, Spanyol tahun 1992, pasangan Susy Susanti dan Alan Budi Kusuma berhasil menggemakan Indonesia Raya untuk pertama kali. Berlanjut di Olimpiade Atlanta, Amerika Serikat tahun 1996 melalui pasangan Rexy Mainaky/Ricky Subagja. Tahun 2000 di Sidney, Australia melalui pasangan Tony Gunawan/Candra Wijaya mempertahankannya. Kemudian tahun 2004, Taufik Hidayat kembali mengumandangkan Indonesia Raya di Athena, Yunani. Dan terakhir pasangan ganda, Markis Kido/Hendra Setiawan di Beijing, China tahun 2008 kembali mengumandangkan Indonesia Raya di ajang olimpiade.

BWF telah mengeluarkan ketentuan yang menjadi persyaratan bagi setiap negara (anggota BWF) dalam mengirimkan pebulutangkisnya di ajang Olimpiade London. Adapun ketentuan BWF untuk nomor tunggal (putra/putri) menyebutkan bahwa setiap negara berhak mengirimkan tiga atlitnya bila berada di peringkat 1-4. Lalu setiap negara berhak mengirimkan dua atlitnya bila berada di peringkat 1-16. Dan setiap negara berhak mengirimkan satu atlitnya jika masuk dalam peringkat BWF yang ditentukan pada tanggal 3 Mei 2012. Kuota yang tersedia untuk nomor tunggal sebanyak 38 tempat.

Berbeda dengan nomor tunggal, pada nomor ganda (putra/putri/campuran) BWF menyebutkan bahwa setiap negara berhak mengirimkan dua wakilnya (dua pasang) jika kedua pasangan berada di peringkat 1-8, jika tidak hanya satu pasang yang meraih tiket ke olimpiade bila masuk peringkat BWF pada tanggal yang sama, 03 Mei 2012. Dan kuota yang tersedia untuk nomor ganda hanya ada 32 tempat.

Jika melihat peringkat yang ada saat ini maka pebulutangkis Indonesia yang berpeluang besar lolos ke ajang Olimpiade adalah Simon Santoso dan Taufik Hidayat pada nomor tunggal putra, Bona Septano/ Mohammad Ahsan pada nomor ganda putra, Greysia Polii/ Meiliana Jauhari pada nomor ganda putri, Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir pada nomor ganda campuran.

Di nomor tunggal putri, Indonesia masih terbuka peluang pada Maria Febe Kusumastuti dan Adriyanti Firdasari yang kini berada di peringkat 33 dan 34. Keduanya masih akan bersaing untuk meraih kemungkinan satu tiket pada ajang yang tersisa dalam satu bulan ini yaitu di Australia Grand Prix Gold pada minggu pertama April dan India Open Super Series pada minggu terakhir di bulan April. Sedangkan pada kejuaraan Badminton Asia yang berlangsung di Qingdao, China, Maria Febe dan Firdasari tidak ikut ambil bagian.

Nasib tragis akan menimpa pasangan ganda peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008, Markis Kido/Hendra Setiawan yang hampir pasti tidak akan turun pada laga empat tahunan ini. Kido/Hendra yang kini berada di peringkat 12 dunia terlalu sulit untuk menembus peringkat delapan dunia dengan hanya mengikuti satu turnamen lagi yaitu ajang Australia Open Grand Prix Gold.

Keluar dari Pelatnas Cipayung untuk meniti jalur profesional bulutangkis di awal tahun 2010, sejumlah kegagalan didapatkan Kido/Hendra. Namun di hampir penghujung tahun pada ajang Asian Games, Guangzhou, China bulan November 2010, Kido/Hendra kembali memperlihatkan tajinya dengan meraih medali emas. Keberhasilan Kido/Hendra di Asian Games 2010 membuat Sigit Pamungkas yang berada di pelatnas memilih mengundurkan diri dari pelatnas untuk bisa melatih Kido/Hendra di luar pelatnas dalam menjaga tradisi emas Indonesia pada ajang Olimpiade. Namun sayang, langkah Sigit Pamungkas kali ini tidak bisa mengulang suksesnya saat membawa anak didiknya seperti tahun 2008 ke Beijing.

Kegagalan Markis Kido/Hendra Setiawan ke Olimpiade London menjadi kekecewaan penggemar bulutangkis Indonesia. Begitu juga Hendra Setiawan memperlihatkan kekecewaannya yang tak berhasil menembus Olimpiade London saat Bulutangkis.com obrol-obrol ringan di sela-sela jumpa pers pertandingan Axiata Cup, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pekan lalu.

‘’Bagaimana nih peluang olimpiade,’’ tanya kami ke Hendra.

‘’Gak bisa lagi,’’ jawab Hendra dengan nada berat. Terbersit sedikit kekecewaan, dan berusaha tersenyum ramah. ‘’Gimana lagi, kalah melulu,’’ tambah Hendra yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah, 24 Agustus 1984.

Kekalahan yang kerap diderita membuat peringkatnya tak mampu menembus delapan besar, bahkan akhirnya dilewati juniornya di pelatnas, Bona Septano/Mohammad Ahsan yang kini berada di peringkat 6 dunia.

‘’Bagaimana latihan sejak keluar dari pelatnas?’’ kami mencoba bertanya apakah kira-kira faktor latihan menjadi penyebab kemunduran Kido/Hendra. Hendra mengakui porsi latihan di luar pelatnas berbeda. Dan saat ini untuk menghadapi perebutan Piala Thomas dan Uber pada bulan Mei mendatang di Wuhan, China tim Thomas berlatih bersama di Pelatnas Cipayung.

Sisa waktu yang masih digunakan pebulutangkis lain untuk berburu poin, Markis Kido/Hendra Setiawan hanya turun berlaga di Australia Open Grand Prix Gold. Sedangkan di India Open Super Series dan Kejuaraan Asia, Kido/Hendra memilih untuk tidak turun berlaga.

Hendra masih menyimpan obsesi untuk bisa tampil lagi di ajang olimpiade. ‘’Satu kali lagi,’’ jelas Hendra kepada kami untuk bisa kembali tampil empat tahun mendatang di olimpiade. (Bulutangkis.com)
Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan