Umum

Lima Kandidat Berebut Kursi Penguasa Aceh

Banda Aceh (MealtdiaNusantara) – Hari ini, Senin 9 April 2012, Pilkada Aceh digelar serentak di seluruh Aceh untuk memilih Gubernur dan 17 bupati/walikota. Total kabupaten/kota di Aceh adalah 23 wilayah.  “Tidak ada kendala lagi, seratus persen sudah siap,” kata Wakil Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Ilham Saputra Minggu 8 April 2012.

Siapa saja lima kandidat yang akan bersaing merebut kursi nomor satu di Aceh hari ini?.

1. Tgk Ahmad Tajuddin – Teuku Suriansyah
Ahmad Tajuddin, dikenal sebagai mubaliq sekaligus pemilik pesantren di Desa Lampisang, Kecamatan Seulimun, Aceh Besar. Lahir 15 September 1962, Tajuddin mencalonkan diri sebagai Gubernur Aceh lewat jalur independen. Ia mengandeng Teuku Suriansyah, mantan anggota MPR asal Aceh periode 1987 – 1999 asal Lhokseumawe, 1 Mei 1954. Suriansyah pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Kertas Kraft Aceh (2002 – 2007). Dia juga pernah menjadi penasihat presiden untuk urusan Aceh pada tahun 2000. Jabatannya terakhirnya adalah Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi.

2. Irwandi Yusuf – Muhyan Yunan
Irwandi Yusuf adalah calon incumbent. Lelaki kelahiran Bireuen, 2 Agustus 1960, menamatkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bergelar dokter hewan pada tahun 1987, Irwandi menjadi dosen di fakultas yang sama pada tahun 1989. Bekas Staff Khusus Psy-war Komando Pusat GAM pada 1998-2001 ini pernah dipercaya sebagai Senior Representatif GAM di Aceh Monitoring Mission (AMM), lembaga pemantau perdamaian Aceh.

Berduet dengan Muhammad Nazar, pada Desember 2006, Irwandi memenangkan Pemilihan Gubernur Aceh. Dia mengakhiri tugasnya pada 8 Februari lalu dan berniat maju kembali untuk periode 2012 – 2017.

Menggandeng Muhyan Yunan, mantan Kepala Dinas Cipta Karya dan Bina Marga Aceh, Irwandi maju via jalur independen. Muhyan sendiri adalah lelaki kelahiran Meukek, Aceh Selatan pada 9 Juni 1953. Muhyan, master dari University of Strathclyde Glasgow United Kongdom Scotlandia tahun 1993 ini adalah aktivis KOSGORO Aceh.

3. Darni M Daud MA – Ahmad Fauzi
Darni Daud, lelaki asal Pidie, 25 Juli 1961 silam ini adalah Rektor Universitas Syiah Kuala. Besar di Desa Bandar Dua, Pidie (sekarang Pidie Jaya), Darni yang juga doktor lulusan Oregon State University, Corvallis, USA ini menjadi Rektor Unsyiah sejak 2006 silam. Mencalonkan diri menjadi gubernur Aceh, dari jalur independen, Darni memilih mengandeng Ahmad Fauzi, saat ini beraktivitas sebagai Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry, Banda Aceh.

4. Muhammad Nazar – Nova Iriansyah
Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar maju lagi. Tak bersama Irwandi, Nazar yang dijagokan Partai Demokrat, PPP dan Partai SIRA ini pecah kongsi dengan Irwandi. Lelaki kelahiran Ulim-Pidie 1 Juli 1973 itu dua kali menjadi tahanan politik semasa Aceh menuntut referendum digelar di Aceh. Nazar bebas sebagai tahanan politik pada 31 Agustus 2005, sebagai implementasi dari MoU Helsinki, untuk memberikan amnesty kepada seluruh tahanan politik yang terkait dengan GAM.

Nova lahir di Banda Aceh pada 22 November 1963. Sebelum menjadi anggota dewan di senayan, dia menjadi dosen Teknik Arsitektur di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

5. Zaini Abdullah – Muzakkir Manaf
Diusung Partai Aceh, Zaini Abdullah adalah eks pentolan Gerakan Aceh Merdeka. Dalam pemilihan kali ini, Zaini berduet dengan Muzakkir Manaf, mantan Panglima GAM. Lahir di Desa Teureube, Kecamatan Kota Bakti, Pidie pada 24 April 1940, Zaini adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) Medan tahun 1972.  Perjuangannya bersama GAM membuatnya meninggalkan Aceh tahun 1981 ke Swedia bersama Hasan Tiro.


Menjadi buron pemerintah Indonesia, di Swedia, Zaini bekerja sebagai dokter dan mengkampanyekan perjuangan GAM di luar negari. Sejak Aceh berdamai, 15 Agustus 2005, Zaini kembali ke Aceh dan menjadi warga Indonesia sejak 2010 silam. Jelang Pilkada, dia dipilih oleh partai untuk maju menjadi Gubernur Aceh.

Muzakkir Manaf, wakilnya, adalah anak Sueneudon, Aceh Utara. Muzakkir yang juga eks panglima GAM mendapatkan pendidikan militer di Libya Maktabah Tanjura pada tahun 1986 – 1989. Tahun 2002, Muzakkir menjadi Panglima GAM menggantikan Alm Abdullah Syafie yang meninggal dalam kontak tembak. Masa damai, Muzakkir memimpin Komite Peralihan Aceh dan pada pertengahan 2007, Muzakkir ditampuk sebagai Ketua Umum Partai. (Tempo.co)
Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan