Umum

Sebagian Orangtua Masih Trauma Gempa, Larang Anak Berangkat Sekolah

Banda Acalteh (MediaNusantara.co) – Sebagian orang tua melarang anaknya ke sekolah pascagempa karena masih trauma dan khawatir gempa susulan di Banda Aceh, Kamis.

Nurmala dan Lisa di Banda Aceh, Kamis, keduanya menyatakan melarang anaknya ke sekolah hingga suasana benar-benar kondusif pascagempa Rabu (11/4) sore.

Keluarga Nurmala dan Lisa yang tinggal di kawasan Blang Oi dan Lamjabat, Kecamatan Meraxa, masih mengungsi ke tempat saudaranya di kawasan Geucu Meunara, Kecamatan Jaya Baru, karena khawatir gempa susulan.

Mereka yang tinggal dekat dengan kawasan pantai terpaksa mengungsi saat dua kali gempa pada Rabu (11/4) sore, masing-masing berkekuatan 8,5 Skala Richer dan 8,8 SR, karena khawatir terjadi tsunami.

Seperti diketahui, gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter (SR) mengguncang Aceh dan sekitarnya pukul 15.38 WIB, demikian menurut informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rabu.

Dampak gempa dirasakan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Lampung, membuat warga mencari tempat untuk berlindung.

Menurut Kepala BMKG Sri Woro B Harijono, pusat gempa berada di 434 kilometer barat daya Meulaboh, 364 kilometer barat daya Kabupaten Simeulue dan sekitar 443 kilometer dari Banda Aceh.

Gempa yang berpusat pada koordinat 2,31 derajat Lintang Utara (LU) dan 92,67 derajat Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 10 kilometer itu berpotensi menimbulkan tsunami dan BMKG sudah menyampaikan peringatan dini melalui televisi.

Nurmala mengaku, trauma karena saat gempa pertama, terpisah dengan anak-anak. Anak-anaknya sedang les di sekolah yang juga dekat dengan pantai.

“Saya sempat trauma, karena saat kejadian gempa pertama, terpisah dengan anak-anak, karena mereka saat itu sedang les di sekolahnya. Jadi, hari ini (12/4) kami larang untuk ke sekolah, takut akan terjadi gempa susulan,” katanya.

Lisa, warga Desa Lamjabat yang anaknya masih TK mengaku, memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya terlebih dahulu karena masih trauma gempa pertama dan kedua.

“Untuk sementara ini, kami mengungsi ke tempat neneknya di kawasan Geucu Meunara, sampai betul-betul suasana tenang,” ujarnya.

Sebagian warga yang tinggal dekat pantai di Banda Aceh dan Aceh Besar masih mengungsi ke tempat keluarga yang tinggalnya jauh dari pantai.

Bakhtiar, seorang warga di Gue Gajah, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar mengatakan, banyak warga yang mengungsi di daerahnya karena masih takut gempa susulan yang berpotensi tsunami.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) hingga Rabu (11/4) sekitar pukul 22.00 WIB menyatakan, belum menerima laporan adanya korban jiwa dampak gempa yang mengguncang Aceh itu.

“Sejauh ini tidak ada laporan tentang adanya korban jiwa sebagai akibat dari gempa terkuat mengguncang Aceh sepanjang tahun 2012,” kata Kepala BPBA Asmadi Syam, Rabu (11/4) tengah malam.

Namun, gempa tersebut membuat kepanikan masyarakat terutama mereka yang berdomisili di pesisir pantai seperti di Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Simeulue, Aceh Barat, dan Kota Lhokseumawe.

Pihaknya juga terus memonitor dampak gempa tersebut, sedangkan petugas BPBA telah dikerahkan untuk menenangkan masyarakat.

Ia mengimbau warga tidak panik dan segera kembali ke rumah masing-masing, menyusul peringatan dini tsunami yang telah dicabut oleh pihak berwenang.

“Kami mengerahkan tim yang bersama-sama dengan unit kemanusiaan lainnya seperti SAR Nasional untuk meminta masyarakat kembali ke rumahnya masing-masing setelah peringatan dini tsunami dicabut,” katanya.

Terkait dengan kerusakan bangunan akibat gempa, Asmadi Syam menyatakan, hingga saat ini belum diperoleh laporan dari daerah yang terkena dampak bencana alam tersebut. ANTARA
Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan