alt
Moneter

OECD: negara-negara kaya harus kurangi utang

Parialts (MediaNusantara.co) – Negara-negara terkaya di dunia harus segera mengambil langkah-langkah sulit untuk mengurangi utang, sebuah “tantangan besar” yang harus dipenuhi guna menstabilkan keuangan publik mereka yang tegang, OECD mengatakan Kamis.

Krisis keuangan global 2008 telah mengirim tingkat utang melonjak karena pemerintah telah menghabiskan banyak biaya, meminjam dalam jumlah besar untuk mencoba dan menjaga ekonomi mereka mengapung, Organisasi Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan mengatakan, lapor AFP.

Sekarang, utang mereka rata-rata 100 persen dari Produk Domestik Bruto untuk anggota OECD secara keseluruhan, harus turun ke tingkat yang jauh lebih aman 50 persen pada 2050, katanya, tetapi itu akan memerlukan pengorbanan yang tidak menyenangkan.

“Di banyak negara, hanya menstabilkan utang, apalagi membawanya ke sebuah tingkat yang berkelanjutan, akan menjadi tantangan utama,” kata OECD dalam sebuah laporan tentang bagaimana negara anggota kemungkinan mengatasi masalah itu.

Dikatakan banyak negara harus menemukan tabungan setara sebesar 3,0 persen dari PDB setiap tahun untuk menurunkan beban utang mereka, tetapi Jepang, dengan rasio utang sekitar 200 persen, harus dipotong sebesar 12 persen.

Untuk Amerika Serikat, Inggris dan Selandia Baru itu akan lebih dari 8,0 persen.

Setelah stimulus untuk mengatasi krisis 2008, banyak negara telah beralih arah, didorong oleh krisis utang zona euro untuk menaikkan pajak dan memotong pengeluaran dalam upaya untuk memangkas peningkatan defisit anggaran.

Kebijakan penghematan dapat membantu keuangan publik, tetapi mereka juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya biasanya memotong pendapatan pemerintah sementara memaksa pengeluaran lebih banyak pada sektor-sektor seperti kesejahteraan sosial.

OECD mengakui masalah itu.

“Dalam jangka pendek, laju konsolidasi perlu diimbangi dengan pengaruh penghematan fiskal pada pertumbuhan. Trade-off akan tergantung pada pilihan (tindakan).”

“Meskipun begitu, hal lain dianggap sama, konsolidasi lebih lambat pada akhirnya akan membutuhkan lebih banyak usaha untuk memenuhi target utang yang diberikan,” katanya. (ANTARA News)

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan