alt
Eropa

WHO Desak Larangan Pemasaran Tembakau

altJenewa (MediaNusantara.co) – Pemerintahan di seluruh dunia harus melarang semua bentuk pemasaran tembakau, bukan hanya dalam iklan baliho dan televisi, karena perusahaan rokok menemukan jalan baru untuk menembus pasar, kata pernyataan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu.

Kepala divisi penyakit tidak menular WHO, Douglas Bettcher, mengatakan langkah lebih keras perlu diambil untuk mengendalikan penggunaan tembakau, yang menelan enam juta korban jiwa setahun.

“Ini adalah industri yang menjual produk yang membunuh lebih dari separuh konsumennya, namun industri ini masih mampu menarik generasi baru perokok meski sudah ada perjanjian tahun 2005 mengenai pengendalian tembakau.” “Sebagian besar konsumen tembakau mulai mengalami ketergantungan obat sebelum usia 20 tahun,” katanya menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau pada Jumat.

“Melarang iklan rokok, promosi dan sponsor adalah satu langkah terbaik untuk mencegah generasi muda menjadi perokok serta menurunkan konsumsi tembakau di seluruh populasi dunia,” imbuhnya.

Pelarangan atas iklan terbuka sangat penting, namun pengusaha tersebut sangat lihai menemukan cara lain yang kurang nyata terlihat untuk menarik perokok potensial dan menjamin pelanggannya tetap setia.

“Perusahaan rokok itu seperti virus yang bermutasi. Saat anda melarang satu jenis iklan, mungkin yang paling populer adalah bentuk baliho, televisi, radio, mereka pindah ke cara lain,” katanya.

Ia merujuk pada taktik termasuk menjual produk bermerk seperti pakaian, menjual produk melalui reality show TV, menggunakan media sosial untuk membentuk komunitas konsumen serta mensponsori sebuah acara.

“Itulah sebabnya pelarangan harus secara lengkap sehingga bisa efektif,” katanya.

Menurut Bettcher, hingga 2011 sebanyak 19 negara telah melakukan pelarangan total — dan menyaksikan penurunan konsumsi rokok hingga tujuh persen– sementara sepertiga negara-negara di dunia baru melakukan pelarangan minimum atau bahkan tidak melarang sama sekali.

Data terbaru akan diluncurkan pada Juli.

Dengan makin ketatnya pelarangan di negara-negara maju, perusahaan rokok telah berpindah meningkatkan permintaan di pasar Afrika.

Bettcher memperingatkan bahaya yang akan dihadapi benua tersebut, mengingat layanan kesehatan di kawasan itu kurang mampu untuk mengatasi akibat dari rokok dibandingkan negara-negara maju.

Ia memuji langkah Australia terkait aturan bungkus rokok yang berlaku mulai Desember, yang mewajibkan produk rokok dijual dalam kotak hijau dengan gambar grafis perokok yang terserang penyakit akibat tembakau.

Selandia Baru dan Irlandia telah mengumumkan rencana untuk mengikuti langkah tersebut, disamping adanya tantangan bagi Australia di forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) oleh produsen cerutu seperti Kuba, Honduras dan Republik Dominika, ditambah Ukraina. (Ant)

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan