Musik

Metallica guncang Jakarta setelah 20 tahun

Jakarta (Medianusantara) – Puluhan ribu penggemar musik metal Indonesia menjadi saksi bagaimana band asal Los Angeles, California, Amerika Serikat, Metallica mengguncang Jakarta pada Minggu malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, setelah 20 tahun yang lalu saat mereka menggelar konser perdana di Indonesia.

James Hetfield, vokalis gaek sekaligus gitaris Metallica di sela-sela konser, mengungkapkan kekagumannya terhadap antusiasme publik Indonesia, dan mengenang konser perdana mereka pada 20 tahun lalu, dimana saat itu sempat terjadi kericuhan dan diharapkan tidak ada kekacauan pada konser kali ini.

“Setelah 20 tahun, akhirnya kami kembali kesini lagi, dan saya terpukau masih dapat bermain di depan massa sebanyak ini, apakah kalian masih bersama kami,” seru James, yang disambut teriakan antusiasme puluhan ribu penonton.

Metallica yang beranggotakan James Hetfield (vocal, gitar), Lars Ulrich (drum), Kirk Hammett (gitar), dan Robert Trujillo (bass) terbukti masih menyimpan energi dahsyatnya pada konser yang berdurasi lebih dari dua jam itu.

Ayunan ribuan kepala penonton mewarnai jalannya konser dan mengiringi lagu-lagu andalan band yang pertama kali merilis album pada 1983 ini, seperti “The Lightning”, “Sad But True”, “For Whom the Bell Tolls”, “Blackened”, Fuel`, “Fade To Black”, “Sanitarium” hingga “Nothing Else Matters” Dan “One”.

Dua layar besar dipasang di sisi panggung raksasa dan berhasil menuntaskan kerinduan puluhan ribu pasang mata terhadap band yang dianggap legenda hidup musik heavy metal dunia tersebut.

Ribuan penonton, dari remaja hingga orang tua, tidak ragu untuk berjingkrak-jingkrak dan bernyanyi bersama dengan James di seluruh lagu, tak terkecuali ketika mereka memainkan lagu-lagu dengan tempo cepat yang memekakkan telinga.

“Apa lagu yang ingin kalian dengar, setelah 20 tahun, kalian masih begitu bersama kami, kalian adalah anggota keluarga kami,” teriak James.

Lagu andalan Metallica “Master of Puppets”dimainkan, dan sontak seluruh penonton yang berada di kelas festival ataupun yang di tribun berdiri sambil mengayunkan tangan ke atas.

Penonton membuat koor yang menggema dan seakan mampu mengguncang Stadion Gelora Bung Karno yang berkapasitas hampir 100 ribu penonton tersebut dan malam itu, dipenuhi lebih dari setengahnya.

Ketika James mengatakan bahwa konser hampir berkahir setelah lagu yang sangat populer di dekade 90-an “Enter Sandman” dimainkan, sontak puluhan ribu penonton menolak dan meminta empat pria idolanya itu untuk bermain kembali.

“We want more, we want more”, teriak penonton berulang-ulang, hingga membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno seakan bergetar.

James, Lars Ulrich, Kirk, dan Robert tidak ingin mengecewakan penggemarnya.

Mereka kembali naik ke atas panggung dan membawakan lagu-lagu tambahan yakni “Creeping Death”, hingga “Seek and Destroy”.

Puluhan ribu penonton haru sekaligus antusias mengikuti koor yang dimpimpin James ketika “Seek and Destroy” dimainkan dan menjadi lagu penutup.

“Kami cinta Jakarta,” teriak James, di penghujung konser.

Robert, yang begitu agresif di atas panggung tidak mau kalah memanjakan pennggemarnya. Dia mencoba berseloroh dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

“Terima kasih banyak, Selamat Malam,” ujarnya terbata-bata. (Ant)

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan