Umum

Tyasno : Tak Hanya Ekonomi, Indonesia Juga Alami Krisis Multidimensi

Jakarta – Meski sudah merdeka, bukan berarti bangsa ini sudah berhenti berperang. Tesis Soekarno tentang penjajahan dalam bentuk baru atau neokolonialisme telah terbukti sekarang.

Hal itu dikemukakan Ketum DHN 45 Tyasno Sudarto dalam sambutannya di acara Halal Bihalal Dewan Harian Nasional (DHN) 45, Kamis (12/9).

Menurut mantan KASAD, saat ini, Indonesia menghadapi perang modern, yakni perang persepsi dan perang mindset. Dia mencontohkan, adanya upaya membentuk persepsi Pancasila sebagai ideologi terbuka, yang artinya bisa menerima ideologi lain dengan mengatasnamakan perkembangan globalisasi. Bhineka Tunggal Ika diartikan boleh berbeda meskipun bertabrakan dengan nilai-nilai ideologi.  Ini merupakan penjungkirbalikan cara berfikir.

“Kita harus bersatu padu untuk memperbaiki kondisi bangsa yang sudah menyimpang dari filosofi Pancasila dan UUD 1945. Kita harus kembali kepada roh Pancasila dan UUD 1945,” terang dia..

Sementara itu, mantan Wakil Presiden RI Try Soetrisno mengemukakan kondisi bangsa saat ini sedang mengalami keprihatinan. Indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi, tapi multidimensi. Di sisi lain, nilai-nilai gotong-royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia mulai tergerus individualisme. Sistem ekonomi condong ke liberalisme. Kita hrs koreksi diri, apa yang salah, apa reformasi salah arah, mari kita kaji ulang semua kesalahan dan kekurangan demi menyelamatkan bangsa ini.

“Kita tidak boleh saling menyalahkan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Moeryati Soedibdjo juga menyoroti pelbagai masalah yang dihadapi bangsa saat ini yakni; korupsi, narkoba, konflik antaretnis, dan kekerasan telah menjadi budaya. Hal ini, jika tidak segera ditangani bisa mengancam kesatuan bangsa.

“Ancaman disintegrasi bangsa ini sudah di depan mata, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah nyata, bukan sekadar retorika,” tandasnya

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan