Eropa

Paus Fransiskus bicara soal gay, kontrasepsi, aborsi

Vatikan – Pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Gereja Katolik harus menghentikan obsesi dalam pengajaran soal aborsi, kontrasepsi dan homoseksualitas.

Dalam wawancaranya dengan jurnal Jesuit dari Italia, Paus mengatakan bahwa Gereja telah “mengunci dirinya dalam hal-hal kecil dan aturan-aturan sempit.” Menurut dia, institusi yang dia pimpin tidak boleh dengan mudah mengecam sesuatu.

Para Imam Katolik harus mulai membuka diri dan tidak menjadi birokrat. Pengakuan, menurut dia “bukan ajang penyiksaan melainkan tempat berkat Tuhan memotivasi kita untuk menjadi lebih baik.”

Pernyataan Paus tersebut disambut baik oleh kelompok Katolik liberal, namun diperkirakan akan memunculkan kekecewaan di kalangan konservatif yang sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran karena Paus Fransiskus dinilai gagal dalam memperbaiki persoalan yang diwariskan oleh pendahulunya, Benediktus XVI.

Paus Fransikus yang sebelumnya bernama Kardinal Jorge Bergoglio merupakan orang non-Eropa pertama dalam 1.300 tahun yang menjadi Paus. Kardinal Bergoglio berasal dari Argentina dan ia berasal dari kalangan Jesuit yang terpilih menjadi Paus.

Dia tidak berharap adanya perubahan mendasar soal moralitas dalam waktu dekat.

Dalam wawancara tersebut, dia mengatakan bahwa Gereja Katolik harus menemukan keseimbangan baru antara hasrat untuk menegakkan aturan dengan pengampunan.

Di sisi lain, dia juga menginginkan peran perempuan yang lebih besar di antara 1,2 juta anggota Gereja. Fransiskus juga menegaskan bahwa tetap ada larangan bagi kaum perempuan menjadi Imam Katolik.

Berbeda dengan Benediktus, yang mengatakan bahwa homoseksualitas adalah penyakit intrinsik, Fransiskus bercerita bahwa kelompok tersebut sering mengeluh karena dikecam oleh Gereja Katolik dan merasa “terluka secara sosial.”

Fransiskus menyatakan kepada kelompok homoseksual bahwa “Gereja tidak menginginkan hal itu.” Dia kembali mengatakan bahwa bukan merupakan tugas seorang Paus untuk menghakimi kaum gay yang berniat baik dan mengabdi kepada Tuhan.

Dalam wawancara yang dipublikasikan Pada Kamis, dia menambahkan, “Agama mempunyai hak untuk mengekspresikan opininya, namun Tuhan menciptakan kita untuk bebas. Adalah hal yang tidak mungkin untuk mengintervensi kehidupan spiritual seseorang.”

Gereja Katolik, menurut Fransiskus, harus menjadi “rumah sakit bagi pahlawan yang bertempur” dan berusaha untuk menyembuhkan luka-luka sosial serta tidak “terobsesi dengan berbagai doktrin yang harus dipaksakan.”

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan