Umum

Badak Jawa Diperkirakan Tinggal 51 Ekor


Banten
– Berdasarkan hasil pemantauan pada 2012 yang dilakukan oleh petugas Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Jawa Barat, melalui kamera yang dipasang sebanyak 102 buah, diperkirakan Badak Jawa yang dikenal pula dengan sebutan badak bercula satu, kini berjumlah sekitar 51 ekor.

“51 ekor tersebut terdiri dari 29 ekor jantan dan 22 ekor betina. Di antara 51 ekor itu, ada 8 ekor anak badak,” jelas Kepala Balai TNUK, Dr. Ir. Moh. Haryono, MSi, di sela-sela kunjungan Desy Ratnasari sebagai Duta Badak Jawa ke Balai TNUK untuk melakukan edukasi pelestarian Badak Jawa kepada 150 anak sekolah dasar, guru dan mitra kerja Balai TNUK, Sabtu (21/).

Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) dengan jumlah populasi sekitar 51 ekor dan hanya berada pada satu habitat di TNUK, Provinsi Banten tersebut, lanjut dia, merupakan spesies paling langka di antara lima spesies badak yang ada di dunia saat ini.

Berdasarkan red list data book yang dikeluarkan oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources, Serikat Antarbangsa bagi Konservasi Alam), Badak Jawa, kata Haryono, masuk kategori sebagai sangat terancam (critically endangered). Sedangkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) memasukkan Badak Jawa dalam Appendix I sebagai jenis yang jumlahnya sangat sedikit di alam dan dikhawatirkan akan punah.

Pentingnya Edukasi
Beranjak dari fakta itulah Haryono berpendapat, edukasi konversi bagi kalangan pelajar sekolah dasar sangat penting dilakukan. Tak hanya itu, edukasi tersebut, lanjut dia, juga merupakan investasi jangka panjang untuk menumbuhkembangkan kecintaan dan kebanggan generasi penerus terhadap satwa langka.

Hal senada dikemukakan pula oleh Desy Ratnasari. Ia mengatakan, bahwa edukasi sejak usia dini tentang pentingnya melestarikan badak sangat perlu dilakukan. “Dengan mengedukasi, anak-anak jadi tahu mengapa badak harus dilestarikan. Dengan begitu mereka jadi peduli dan ikut menjaga sekaligus melestarikan agar tidak punah,” jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Desy, anak-anak yang memiliki pengetahuan tentang pentingnya melestarikan badak juga bisa menjadi sumber nyata untuk memberikan informasi yang benar kepada keluarganya.

Sementara itu, Jony Yuwono selaku Asisten Presiden Direktur PT Sinde Budi Sentosa mengatakan, bahwa perusahaanya yang mendukung penuh program edukasi tentang pelestarian Badak Jawa tersebut, berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam upaya konservasi satwa langka yang memiliki kesamaan dengan gambar produknya yaitu Larutan Penyegar Cap Badak.

“Dukungan tersebut bisa dilakukan lewat berbagai upaya misalnya mensuport finansialnya, logistik, sosialisasi dan edukasi tentang badak,” imbuhnya.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan