Hukum

Kasus Suap Buol, KPK Tahan Anak Buah Hartati Murdaya


Jakarta
– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Direktur PT Hardaya Inti Plantation (HIP), Totok Lestiyo terkait kasus dugaan suap terkait pengurusan penerbitan Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha (HGU) di Buol, Sulawesi Tengah.

Totok ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang, Jakarta, usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka selama lebih kurang tujuh jam untuk 20 hari ke depan. Juru Bicara KPK, Johan Budi SP, mengatakan penahanan dilakukan dalam rangka kepentingan penyidikan.

“Ditahan selama 20 hari pertama,” kata Johan di Kantor KPK, Jakarta, Senin (23/9).

Adapun Totok tampak keluar Gedung KPK, Jakarta, sekitar pukul 17.30 WIB dengan mengenakan baju tahanan KPK berupa rompi berwarna oranye. Namun Totok enggan berkomentar sedikitpun soal penahanannya tersebut. Mantan anak buah Hartati Murdaya ini langsung bergegas masuk ke mobil tahanan yang akan mengantarnya ke rumah tahanan.

Sebelumnya Totok ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK sejak 28 Juni lalu karena diduga turut serta bersama-sama menyuap Bupati Buol Amran Batalipu sebesar Rp 3 miliar.

Dia dijerat Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dengan ancaman maksimal lima tahun penjara.

Diketahui nama Totok Lestiyo memang disebut-sebut dalam putusan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta untuk terdakwa Presiden Direktur PT HIP Siti Hartati Murdaya.

Dalam amar putusannya, Hartati telah terbukti secara bersama-sama Arim (Financial Controller PT HIP), Totok Lestiyo (Direktur PT HIP), Gondo Sudjono (Direktur Operasional PT HIP), dan Yani Anshori (General Manager Supporting PT HIP) melakukan perbuatan berlanjut memberikan hadiah atau janji berupa uang Rp 3 miliar ke Amran selaku Bupati Buol.

Totok disebut-sebut sebagai orang yang memiliki peran penting dalam kasus tersebut. Bahkan dalam persidangan, Bupati Buol Amran Batalipu juga sempat meminta majelis hakim untuk menetapkan Totok sebagai tersangka kasus yang juga menjerat dirinya tersebut.

Dalam kasus ini, Hartati telah divonis dua tahun delapan bulan penjara dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan. Selain menghukum pidana penjara dan denda Majelis Hakim juga mengeluarkan perintah merampas uang yang berjumlah Rp 170 juta yang telah disita dalam kasus ini untuk negara.

Selain Hartati, dua anak buahnya di PT HIP, Yani Ashori dan Gondo Sudjono juga telah divonis bersalah. Yani dihukum satu tahun enam bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan, sedangkan Gondo dihukum satu tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider tiga bulan kurungan.

Untuk kasus ini, Bupati Buol Amran Batalipu juga telah divonis bersalah menerima suap Rp 3 miliar. Oleh majelis hakim Amran dijatuhi hukuman tujuh tahun enam bulan penjara dan denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan.

Pemberian uang suap itu dilakukan untuk menggerakkan Amran agar menerbitkan surat rekomendasi yang berhubungan dengan proses pengajuan IUP dan HGU terhadap tanah seluas 4.500 hektar atas nama PT HIP dan menerbitkan surat rekomendasi terhadap sisa lahan yang berada dalam ijin lokasi atas nama PT HIP yang belum memiliki HGU.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan