Hukum

Penembak Jurnalis Trans7 Dijatuhkan Lima Hukuman


Jambi
– Briptu Dodi Eriyansyah, anggota Sabhara Polresta Jambi, menjalani sidang disiplin di Mapolresta Jambi, Jumat (27/9/2013).

Briptu Dodi diduga lalai dalam menjalankan tugas, sehingga senjata gas air mata yang dipegangnya meletus, dan mengenai wartawan Trans7, Anton, yang tengah meliput aksi demo di Kantor DPRD Jambi, beberapa waktu lalu.

Dalam sidang disiplin yang dipimpin Waka Polresta Jambi AKBP Yudha Setia Budi SH Sik, ada tujuh hal yang dituntut kepada Briptu Dodi, yakni penempatan khusus selama 21 hari, penundaan gaji berkala, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, serta mutasi.

Tuntutan lainnya adalah penundaan pendidikan, teguran tertulis, dan pembebasan dari jabatan. Setelah mendengar keterangan terperiksa, yakni Briptu Dodi dan para saksi, akhirnya pimpinan sidang membacakan putusannya.

Dalam putusannya, pimpinan sidang mengatakan bahwa telah cukup bukti Briptu Dodi melanggar disiplin. Briptu Dodi dinyatakan tidak melaksanakan tugas dengan baik, tidak mentaati peratuan perundangan-undangan dan kedinasan yang berlaku, serta menyalahi wewenang.

Bahkan, kepada pimpinan sidang, Briptu Dodi mengaku tidak paham menggunakan senjata gas air mata.

Menurutnya, ia yang diperintahkan memegang senjata tersebut, tidak berani membantahnya, meskipun ia tidak paham. Namun, dalam keterangannya kepada pimpinan sidang, ia tidak sengaja melakukan penembakan.

“Terhadap Briptu Dodi, ada lima hukuman yang dijatuhkan, yakni penempatan khusus paling lama 21 hari, serta penundaan usulan kenaikan pangkat selama satu tahun atau dua periode. Selain itu, penundaan mengikuti pendidikan selama satu tahun, mutasi bersifat demosi, dan teguran tertulis,” papar AKBP Yudha membacakan putusan.

Briptu Dodi menerima putusan itu. Usai persidangan, Briptu Dodi juga langsung menyalami dan menyampaikan permintaan maaf kepada Anton dan istrinya.

Anton yang mendengar putusan, langsung memeluk istrinya, Niken. Tampak mata Anton berkaca-kaca.

Sebelumnya diberitakan, aksi unjuk rasa menolak rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Jambi, Senin (17/6/2013) silam, berakhir bentrok.

Gabungan mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Jambi, baku hantam dengan polisi yang menghalau mahasiswa, yang memaksa masuk Gedung DPRD Jambi.

Dalam bentrok antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa, Anton Nugroho Kusuma, koresponden Trans7 Jambi, menjadi korban penembakan yang dilakukan polisi.

Anton yang waktu itu tengah meliput jalannya aksi unjuk rasa, terkena selongsong peluru gas air mata yang ditembakkan polisi.

Setengah selongsong peluru menempel tepat di pipi kanan di bawah mata wartawan Trans7, yang sedang mengambil gambar dari tengah kerumunan massa pendemo.

Insiden terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Di tengah baku hantam yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara ledakan, dor! Ledakan keras itu terdengar satu kali, dan massa langsung buyar berlarian.

Beberapa saat kemudian, wartawan Trans7 Anton Nugroho Kusuma yang sedang mengambil gambar, mengeluhkan sakit di pipinya.

Anton langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil. Mobil yang membawa Anton sempat diadang mahasiswa yang mengira itu satu di antara rekannya yang dibawa polisi.

Para jurnalis dan mahasiswa sempat bersitegang. Sebab, beberapa mahasiswa yang tidak tahu bahwa yang di dalam mobil merupakan wartawan korban penembakan, mencoba mengadang laju mobil.

Anton yang telah bersimbah darah dilarikan ke IGD RSUD Raden Mattaher Jambi untuk mendapatkan perawatan. Satu jam kemudian, wartawan Trans7 menjalani operasi untuk mengangkat selongsong peluru yang bersarang di pipinya.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan