Umum

Teknis Penanganan “Manusia Perahu” Masih Gelap


Jakarta
– Menteri Luar Negeri (menlu) Marty Natalegawa menekankan bahwa dalam penanganan manusia perahu, Indonesia tidak akan melenceng dari Bali Process yang disepakati tahun 2002. Meski demikian kedua negara kata dia menganggap manusia perahu sebagai tantangan bersama.

“Dari awal diskusi kita sudah menyadari bahwa kita memerlukan kerjasama dalam menangani hal ini (manusia perahu) dan harus bertolak dengan Bali Process,” kata Marty Natalegawa di kompleks Kepresidenan, Jakarta, Senin petang (30/9).

Bali Process merupakan kesepakatan 45 negara termasuk Internasional Organization of Migration (IOM) dan UNHCR pada tahun 2002 bahwa penyeludupan manusia, traficking terkait dengan kejahatan transnasional dan harus diselesaikan dengan respon bersama dan kerjasama praktis.

Marty lebih jauh tidak menjelaskan soal persetujuan Indonesia tentang adanya manusia perahu atau imigran gelap yang ditangkap di perairan Australia namun dibawa ke Indonesia.

“Khusus untuk masalah teknis akan dibahas lebih lanjut,” tambah Marty.

Marty melanjutkan, yang menjadi semangat Indonesia dan Australia dalam penanganan manusia perahu adalah bahwa keduanya ingin melakukan penanganan bersama yang efektif.

Sebelumnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan bahwa Indonesia keberatan dengan rencana Australia menempatkan tim khusus di Indonesia untuk menghalau manusia perahu atau para pencari suaka.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan