Makro

“Shutdown” AS Tidak Pengaruhi Investasi


Jakarta
– Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar mengatakan dampak shutdown AS terhadap iklim investasi tidak terlalu besar. Menurutnya pemerintah tidak perlu cemas karena shutdown hanya permasalahan internal yang dihadapi Amerika Serikat.

Dia mengatakan efek shutdown tidak seperti tapering (pengurangan stimulus) yang dilakukan The Fed. Menurutnya virus tapering bisa menyebar ke semua negara berkembang dan memperlambat pertumbuhan perekonomian namun virus shutdown hanya dirasakan oleh pemerintah Amerika Serikat dan tidak berdampak langsung pada emerging country.

Dia mengatakan justru dengan adanya US shutdown, membuat iklim investasi di Indonesia berpotensi meningkat karena para investor asing dibuat bertahan atau stagnan sehingga para investor tersebut akan mencari pasar atau tempat lain untuk berinvestasi dan salah satunya Indonesia.

” Pemerintah tidak perlu bercemas diri, karena shutdown tidak begitu terasa dampaknya ke iklim investasi, justru dengan US Shutdown membuat pemerintah berbenah untuk perubahan,” ujar dia saat ditemui dalam acara ” BKPM. Peluncuran Laporan Terkait Studi Dampak Investasi Langsung Amerika Serikat” di Gedung BKPM, Jakarta. Kamis (3/10).

Dia mengatakan memperbaiki kualitas infrastruktur,meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, mempermudah masalah perizinan, mendorong pemerintah daerah agar menerapkan Pelayanan Terpada Satu Pintu (PTSP) adalah beberapa langkah yang akan dilakukan BKPM agar iklim investasi terus stabil.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Indonesia Untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal mengatakan pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah Indonesia adalah menjaga confidence investor asing agar mereka tetap memilih Indonesia sebagai negara layak investasi.

Dia mengatakan pemerintah harus tetap fokus dan menjaga agar investor tetap happy dengan cara memberikan insentif pajak atau memperbaiki kualitas regulasi dan tentunya kepastian hukum.

Menurut dia jika pemerintah sudah bisa memberikan insentif dan memperbaiki regulasi maka iklim investasi di Indonesia akan tumbuh positif karena reputasi Indonesia di mata investor cukup besar.

” Carlos Slim orang terkaya di dunia (dari Meksiko) saja pernah bilang ke saya, tempat tujuan investasi dia selanjutnya adalah Indonesia, jadi reputasi Indonesia sudah cukup bagus di mata dunia,” ujar dia.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan