Polkam

Pilkada Ulang Lebak Penuh Kejanggalan


Jakarta
– Pemungutan suara ulang yang diperintahkan Mahkamah Konstitusi (MK) pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) Lebak, Banten, dinilai penuh keganjilan. Padahal calon bupati dan wakil bupati Iti Octavia – Ade Sumardi menang dengan perolehan suara sekitar 60 persen.

“Di persidangan fakta-fakta tidak ada yang memberatkan. Fakta hukum kita menang, tapi kita dikalahkan secara politik. MK lalu putuskan PSU,” kata pengacara Iti-Ade, Risa Mariska dalam diskusi bertajuk “Menganulir Putusan Sengketa Pilkada di MK yang Terindikasi Suap”, di Jakarta, Minggu (6/10).

Risa mengungkapkan, pihaknya diminta menyiapkan uang Rp-2-3 miliar agar bisa menang di MK. “Kita memilih untuk fight. Karena kita tidak lakukan kecurangan,” ungkapnya.

Sekadar informasi, dalam nomor 111/PHPU.D-XI/2013 itu, MK Membatalkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lebak Nomor 41/Kpts/KPU.Kab./015.436415/IX/2013 yang menetapkan pasangan Iti Octavia – Ade Sumardi sebagai bupati dan wakil bupati terpilih. Ternyata putusan MK itu patut diduga hasil dari suap terhadap Ketua MK demisioner Akil Mochtar.

Seperti diketahui, selain menangkap Akil, KPK menetapkan pengusaha Tubagus Chaery Wardana alias W sebagai tersangka suap dalam kaitan Pilkada Lebak. Diduga, Tubagus terlibat serah terima uang bersama dengan Akil terkait kepengurusan sengketa Pilkada Lebak.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan