Hukum

Eksekusi Yayasan Supersemar, Tolak Ukur Reformasi


Jakarta
– tuntutan terhadap Penuntasan kasus gugatan perdata terhadap tujuh yayasan milik Mantan Presiden Soeharto dinilai menjadi tolak ukur reformasi. Erwin Natosmal dari Indonesian Legal Roundtable berpendapat bahwa dengan dituntaskannya kasus yayasan milik Soeharto adalah perwujudan dari berakhirnya rezim Soeharto.

Erwin dalam konferensi pers di kantor ICW mengatakan hingga kini hanya satu gugatan perdata terhadap yayasan milik Soeharto yang sudah diproses, yaitu Yayasan Beasiswa Supersemar.

“Eksekusi terhadap Yayasan Supersemar adalah tolok ukur reformasi, sebagai wujud dari berakhirnya rezim Soeharto. Sehingga harus dipercepat pelaksanaannya,” kata Erwin, Minggu (20/10).

Erwin menjelaskan kasus gugatan perdata Yayasan Supersemar sudah diputuskan pada tahun 2010 oleh Mahkamah Agung. Yayasan milik Soeharto tersebut dinilai telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Karenanya, Yayasan Supersemar harus membayar denda senilai Rp3,17 triliun.

“Namun hingga saat ini proses eksekusi terhadap putusan tersebut juga belum berhasil dilaksanakan,” kata Erwin.

Menurut Erwin masih ada enam yayasan lain yang proses hukumnya masih terkatung-katung di Kejaksaan agung. Enam yayasan yang diduga telah merugikan negara triliunan rupiah adalah Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, Yayasan Dharmais, Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti, Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, dan Yayasan Trikora.

Erwin menerangkan berdasarkan catatan Stolen Asset Recovery (STAR), sepanjang Soeharto memerintah sebanyak Rp315 triliun telah dikorupsi.

“Kami mendesak Kejaksaan Agung segera melakukan proses eksekusi terhadap putusan Yayasan Supersemar. Salah ketik dalam putusan MA dimana Rp3,6 triliun tertulis Rp3,6 juta seharusnya tidak menyebabkan Kejaksaan menunda eksekusi tersebut,” kata Erwin.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan