Polkam

Hasil Survei LSI Tendensius


Jakarta
– Partai Gerindra menyatakan hasil terbaru survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menempatkan capres partai itu, Prabowo Subianto sebagai ‘capres wacana’, sebagai sesuatu yang tendensius

Selain itu, partai itu juga ditempatkan di bawah Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat (PD).

Seperti diketahui, pada Minggu (20/10), Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis survei terbarunya terkait Capres 2014. Rilis LSI yang bertepatan dengan ulang tahun salah satu partai politik tersebut menyebutkan hanya ada tiga capres yang bisa maju di Pilpres 2014 karena diusung tiga parpol teratas hasil survei tersebut. Yaitu Aburizal Bakrie (Golkar 20,4%); Megawati Soekarnoputri (PDIP 18,7%) dan Capres hasil konvensi Partai Demokrat (PD 9,8%).

Sedangkan Prabowo Subianto (Gerindra 6,6%) dan Jokowi ditempatkan sebagai “Capres Wacana”.

LSI menggunakan tiga ukuran atau indeks. Pertama, Capres dicalonkan tiga parpol teratas dalam perolehan suara pemilu. Kedua, Capres merupakan pengurus struktural partai. Ketiga, Capres dicalonkan secara resmi oleh parpol.

“Ketiga alasan tersebut menjadi sumir karena ukuran LSI terlalu sederhana dan tidak mempertimbangkan koalisi di antara partai politik,” tegas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, di Jakarta, Senin (21/10).

Selain itu, LSI dinilai tidak mempertimbangkan perilaku pemilih maupun fluktuasi dukungan terhadap partai politik. Selain itu, LSI gagal menunjukkan hal penting dalam penelitian yaki measurement error. Di mana bila skala pengukuran lemah akan mempengaruhi kualitas dan hasil penelitian.

Fadli mengingatakan manajemen LSI bahwa survei sebagai salah satu bentuk ilmu pengetahuan tak boleh dilakukan secara tendensius. Oleh karena itu, lembaga survei sebaiknya jangan menjadi konsultan politik dari salah satu kandidat.

Metode push poll yang bertujuan untuk membentuk opini atau persepsi masyarakat terhadap kandidat tertentu, ketimbang mengumpulkan opini atau persepsi masyarakat secara umum, masih diperdebatkan penggunaannya di kalangan peneliti. Tetapi sebagian besar menolak menggunakan metode push poll.

“Untuk menjamin kredibilitas, lembaga survei juga harus menjelaskan sumber pendanaan, apakah dari internal perusahaan atau klien,” tandasnya.

“Survei yang dibuat konsultan politik biasanya akan menguntungkan pemesan atau klien. Sangat manipulatif dan tak mendidik. Kami tak khawatir. Rakyat yang memilih.”

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan