Umum

BPPT Gandeng Jepang Pantau Air


Purwakarta
–  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama peneliti Jepang, melakukan uji coba pemantauan kondisi permukaan air di Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Alat pemantau berbasis sensor yang digunakan ini disebut dapat memberikan data secara real time setiap 10 menit.

Sebelumnya, pengelola Waduk Jatiluhur menggunakan metode konvensial dan pengukuran dengan banyak instrumen. Dengan metode itu, untuk mengetahui kondisi permukaan air pun membutuhkan waktu berhari-hari.

Peneliti Senior Gambut dan Akunting Sumber Daya Alam BPPT, Bambang Setiadi mengatakan, alat Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering (Sesame) ini bisa mengetahui ketinggian muka air secara cepat dan akurat. Selain itu, volume tampungan air di waduk juga bisa diketahui.

“Alat ukur ini juga sudah diujicobakan di Sungai Kahayan, untuk memantau banjir. Mengapa tidak diimplementasikan ke waduk? Sebab strategi pengolahan air pertanian, energi, (dan) air minum di berbagai provinsi Indonesia, bergantung dari waduk,” kata Bambang, di sela-sela peninjauan SESAME di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Senin (21/10).

Disebutkan, kerja sama riset BPPT, Universitas Hokkaido, JICA dan JST, bersama pengelola waduk Perum Jasa Tirta II, ini akan dimonitor hingga Maret 2014. Bambang yang juga mantan Kepala Badan Standardisasi Nasional ini pun mengungkapkan, awal riset bersama peneliti Jepang ini dimulai dengan sensor untuk mengukur permukaan air di lahan gambut, yang kemudian dikorelasikan dengan angka emisi karbon.

“Untuk pemantauan gambut, pendekatannya untuk mengetahui permukaan air di lahan gambut. Tinggi permukaan air tersebut menentukan jumlah karbon yang dilepas,” ucapnya.

Dikatakan Bambang, selain di Waduk Jatiluhur, teknologi sensor pemantau kondisi air secara real time ini juga sudah diujicobakan di Kalimantan, Riau, dan di Pusat Kopi dan Kakao Jember. Ia pun berharap, jika uji coba ini berhasil dengan baik, maka direncanakan perangkat sensor pemantau ini diproduksi massal sebanyak 100 unit, dengan kandungan lokal dalam negeri. Hanya saja, pengolahan data real time yang masih berbasis di Jepang ini mewajibkan Indonesia butuh waktu untuk mentransfer teknologinya.

CEO Head Director Midori Engineering Laboratory Co Ltd, Yukihisa Shigenaga mengatakan, Sesame yang dipasang di Waduk Jatiluhur pada 15 Oktober lalu tersebut meliputi sensor air, hujan dan temperatur udara. Dikatakan, informasi ketinggian air yang dikombinasikan dengan data curah hujan dan temperatur di Waduk Jatiluhur ini dikumpulkan setiap 10 menit, dan akan dikirimkan setiap satu jam sekali langsung ke server yang berada di Midori Engineering Laboratory Hokkaido, sebelum ditransfer kembali ke Indonesia.

“Alat sensor dipasang di bawah permukaan air, menggunakan panel surya untuk energi operasi alat ini yang tahan hingga tujuh hari. Di dalam boks pemantau ada SIM card untuk melaporkan secara real time,” paparnya.

Sementara itu, untuk uji coba sensor di Sungai Kahayan, grafik Sungai Kahayan menunjukan debit air sungainya. Sehingga dengan itu, bisa diprediksi kapan terjadi banjir dan di mana potensi banjirnya

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan