alt
Umum

Warga Bantu Aparat Tegakkan Aturan Angkut Pasir Merapi

altMagelang (MediaNusantara.co) – Sekitar 100 perwakilan warga Desa Keningar dan Sumber, Kabupaten Magelang, Jateng, di barat puncak Gunung Merapi, berinisiatif membantu aparat menegakkan aturan pengangkutan pasir dari gunung itu.

Penegakkan aturan itu agar kondisi jalan di kawasan setempat tidak cepat rusak, kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Giyono, di sela kegiatan itu di Magelang, Rabu.

“Kami sudah memberitahu pihak berwenang untuk melaksanakan inisiatif warga, agar truk pasir yang muatannya melebihi ketentuan, sopirnya menurunkan muatannya yang berlebih itu. Kami ingin agar jalan tidak cepat rusak,” katanya.

Masyarakat kawasan Gunung Merapi menyebut truk yang membawa pasir dengan melebih ketentuan itu, sebagai “kelebihan tonase”.

Kegiatan penertiban tonase oleh mereka dipusatkan di dekat Balai Desa Keningar, sekitar enam kilometer dari barat puncak Gunung Merapi. Ratusan truk setiap hari (pukul 06.00-18.00 WIB) mengangkut pasir dari sejumlah lokasi di tempat yang lebih tinggi ketimbang desa itu, antara lain lokasi Sumup, Sungai Senowo, dan pekarangan warga.

Ia menyebut hingga sekitar pukul 08.30 WIB, sekitar 25 truk yang melewati jalan itu, kedapatan warga memuat pasir melebihi ketentuan tonase sehingga sopirnya diminta menurunkannya di tempat itu.

“Umumnya diturunkan hingga sesuai ketentuan, yang diturunkan dari bak truk dengan ketinggian tumpukan pasir antara 10-20 centimeter, di ukuran bak truk. Warga bertugas mengawasi,” kata Giyono yang juga koordinator pengelolaan portal jalan di Desa Keningar itu.

Ia menyebut selama dua hari pertama, yakni Rabu dan Kamis (28/11), penertiban tonase itu dilakukan warga secara bersama-sama dan untuk selanjutnya pihaknya akan menyusun jadwal untuk kegiatan lanjutan.

“Misalkan memang kegiatan ini secara bersama-sama berhenti atau tidak ada jadwal, maka kapan dan dimanapun kami akan minta truk yang kelebihan tonase, sopirnya kami minta menurunkan kelebihannya. Kami merasa berhak melakukan ini karena untuk menjaga jalan tetap baik,” katanya.

Jalan desa itu, katanya, baru saja dibangun oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk jalur evakuasi warga apabila terjadi erupsi Merapi erupsi lagi.

“Biayanya tentu besar, sehingga kami terpanggil untuk ikut menjaga. Selama 15 tahun terakhir tidak pernah diperbaiki, dan kemarin, pascaerupsi Merapi 2010, telah dibangun. Masyarakat kami peduli jalan,” katanya.

Pihaknya telah memberitahukan tentang kegiatan itu secara lisan dan tertulis, kepada aparat yang berwenang, baik kepolisian maupun Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang. Sejumlah petugas, antara lain dari kepolisian dan TNI juga turut memantau kegiatan warga setempat terkait dengan penertiban tonase itu.

Pada kesempatan itu ia juga menjelaskan tentang pemanfaatan kelebihan muatan pasir yang diturunkan oleh sopir truk masing-masing di tempat tersebut.

“Pasir yang diturunkan, siapapun berhak untuk menggunakannya, asalkan tidak untuk dijual, tetapi untuk keperluan masyarakat sekitar. Boleh diambil dengan gratis. Kami sudah menyiapkan koordinator untuk yang mengurusi,” katanya. (Ant)

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan