Umum

Pelayanan Buruk Jadi Alasan Bupati Tutup Landasan


Kupang
– Buruknya pelayanan yang diberikan oleh maskapai penerbangan Merpati, membuat Bupati Ngada, Marianus See murka dan memerintahkan Satpol PP menutup Bandara Turalelo, Soa, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sudah keterlaluan. Saya mengemis beli tiket untuk terbang ke Ngada sampai lima jam dan jawabannya pesawat sudah full. Saya mengemis karena urusan sidang dengan DPRD Ngada yang menentukan kebijakan pembangunan di Ngada, termasuk fasilitas bandara yang dinikmati oleh Merpati. Saya menilai pihak maskapai penerbangan menghambat pembangunan di daerah kami. Dari kasus tersebut, bukan saya saja yang marah, tetapi semua masyarakat Ngada melalui DPRD Ngada ikut protes terhadap pelayanan yang buruk di daerah kami,” tegasnya.

Dikatakan, pemblokiran bandara merupakan pembelajaran terhadap manajemen Merpati untuk tidak melakukan perbuatan serupa. “Saya sebagai kepala daerah melarang pesawat Merpati mendarat di bandara Turalelo, Soa, sebab Merpati sebagai perusahan pemerintah tidak mendukung pembangunan di daerah kami. Kami naik pesawat merpati tidak gratis. Kami bayar, walaupun kadang kala harga tiket sangat mahal. Tidak etis saya harus mengemis tiket kepada Merpati,” jelas Marianus.

Menurutnya, setelah menunggu lima jam untuk mendapat tiket pulang dari Kupang ke Ngada, ternyata tidak ada informasi dari maskapai tersebut. Akhirnya, Marianus membeli tiket pesawar Transnusa. “Pihak Merpati menghubungi saya setelah mendapat tiket Transnusa dan siap terbang sore hari. Jika manajemen Merpati dapat menjelaskan bahwa harus ada izin dari menteri perhubungan di Jakarta dan ada kepastian, maka hal tersebut (pemblokiran bandara, Red) tidak terjadi,” katanya.

Secara terpisah, Distric Manager Merpati Kupang, Denny DJ Dehoog menyatakan pesawat Merpati tidak bisa mendarat di Bandara Turalelo karena ada pergerakan di bandara itu. Pilot diminta kembali dan akhirnya 56 orang yang hendak turun di Turalelo dialihkan ke bandara di Ende.

Diakui, pesawat rute Kupang-Ngada saat itu telah penuh. Namun, pihaknya tetap mengonfirmasi keberangkatan Bupati Marianus, tapi hingga waktu pemberangkatan yang bersangkutan telah memiliki tiket Transnusa, sehingga pesawat tetap diberangkatkan.

“Kami akan bicarakan masalah ini dengan bupati sehingga penerbangan ke bandara itu kembali normal,” katanya.

Sedangkan, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Bruno Kupok, melalui Kabid Udara, Donatus Mite, bisa memaklumi kemarahan bupati karena yang bersangkutan sedang ditunggu DPRD Ngada untuk mengikuti sidang paripurna penetapan anggaran pembangunan daerah itu. Bupati Marianus Sae berada di Kupang untuk menerima DIPA yang diserahkan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

“Untuk penerbangan ke Bandara Turalelo saat ini sudah dibuka dan penerbangan kembali normal. Penutupan itu hanya berlangsung Sabtu (21/12) saja. Kami meminta agar masalah ini jangan dipolemikkan, sebab hanya terjadi miskomunikasi antara bupati dengan manajemen Merpati,” katanya.

Sebelumnya, Forum Pemuda Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda) NTT mendesak Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kementerian Perhubungan(Kemhub) segera berkordinasi dengan Polri untuk melakukan penyelidikan atas Bupati Ngada, Marianus Sae. Tindakan bupati Ngada yang memerintahkan menutup Bandara Turalelo, Soa, Ngada, dinilai membahayakan penerbangan sipil dan merugikan kepentingan publik, sekaligus diancam hukuman pidana sesuai UU Perhubungan.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan