Ekonomi Moneter

OPINI : Jokowi Terapkan Kebijakan yang Keras ke Pengusaha, Erdogan Tidak

Jatuhnya mata uang Turki, Lira terhadap dollar seakan membuka betapa kerasnya persaingan ekonomi global antar Negara. Tak salah, bila Indonesia mesti mewaspadai setiap perkembangan yang terjadi di dunia Internasional. Mata uang Rupiah saat ini melemah tak lepas dari pengaruh dari perekonomian luar negeri.

Untuk mengetahui, apa saja dilakukan pemerintah Indonesia. Mari simak opini ditulis dari akun pribadi Facebook Erizeli Jely Bandaro :

Kemarin saya bertemu dengan teman pengusaha tekstil. Dia sangat kecewa dengan Jokowi. Karena kurs terus melemah dan dia rugi banyak. Kalau kurs terus melemah akan banyak pabrik tekstil gulung tikar. Bahan baku kami kan sebagian besar dari impor. Katanya. Saya katakan , kamu bisa aja mengeluh begitu. Tetapi kamu harus tahu dunia usaha terus berkembang dengan meningkatnya realisasi investasi.

Realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) hingga kuartal pertama 2018 periode Januari hingga Maret tembus Rp 185,3 triliun. Nilai ini tumbuh 11,8% dari realisasi periode yang sama tahun 2017 Rp 165,8 triliun.

Kamu mengeluh tatapi pengusaha CPO, petani jagung, singkong, pesta karena kurs melemah. Kamu harus mencari solusi agar pelemahan kurs ini bisa membuat kamu berkembang. Ingat teori paradox.

Tetapi kamu harus tahu juga. Katanya.

Dana investor asing keluar dari pasar saham Indonesia mencapai Rp 50,22 triliun sampai dengan Juli 2018. Ini yang memicu terjadinya pergerakan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan kekhawatiran defisit neraca transaksi berjalan dinilai menjadi faktor pendorong investor asing keluar dari Pasar modal.

Saya katakan , lihat juga data masuknya arus modal dari luar ke Indonesia.

Capital inflow mencapai Rp 79,1 triliun per 5 April 2017. Nilai ini meningkat Rp 21,5 triliun dibanding dengan periode yang sama tahun lalu.

Artinya sedang terjadi reposisi portfolio investasi dari Pasar modal ke pasar uang. Intinya Indonesia masih exciting bagi investor. Itu biasa saja. Kurs melemah itu lebih karena faktor eksternal. Terbukti walau kurs melemah, inflasi masih satu digit. Ya karena fundamental kita sehat.

Kurs melemah itu karena Indonesia terlalu banyak impor.

Katanya menyadari. Saya bilang memang banyak impor. Tetapi bukan dipicu oleh impor konsumsi.

Sebagian besar jutru impor itu berasal dari barang Modal untuk kebutuhan pabrik. Namun bagaimanapun impor konsumsi harus diantasipasi. Kini pemerintah akan mengeluarkan kebijakan ketat atas impor barang konsumsi. Sudah terdeteksi 500 komoditas akan kejaring terkena tarif impor 7,5%. Pemerintah akan mengendalikan barang yang permintaannya melonjak tinggi, tapi tidak betul-betul strategis dan dibutuhkan dalam perekonomian.

Kalau ini diterapkan pengusaha seperti kamu akan diuntungkan. Impor tekstil dari China pasti drop. Silahkan perbaiki efisiensi dan masuk kepasar domestik tanpa stress hadapi saingan tekstil dari CHina. .

Tapi kan era SBY pertumbuhan ekonomi kita tinggi diatas 5-6%.” Katanya. Benar tetapi tidak menciptakan lapangan kerja yang luas. Elastisitas 1 persen growth dalam membuka lapangan kerja turun dari 436.000 menjadi 164.000.

Itu karena bisnis rente lebih banyak daripada yang tradeble Efisiensi ekonomi semakin memburuk, ditandai dengan semakin tingginya indeks ICOR, dari 4,17, menjadi 4,5. Nilai tukar petani selama 10 tahun terakhir turun 0,92.

Memperbaiki itu semua tidak gampang. Apalagi situasi global yang tidak menentu karena adanya trade war yang dilakukan AS. Belum lagi sekarang Pasar modal dan uang Asia terguncang karena krisis Turki. Tentu ini akan menimbulkan efek negatif bagi investor terhadap negara emerging maket.

Jokowi gagal memperbaiki neraca perdagangan khususnya industri. Katanya lagi. Ini bukan terjadi mendadak tetapi by process.

Sejak era SBY, kontribusi industri terhadap PDB menurun. Neraca perdagangan melorot. Pada 2004, neraca perdagangan surplus 25,06 miliar dollar AS, menjadi defisit 4,06 miliar dollar AS pada 2014. Jadi Jokowi memang mewarisi ekonomi yang sedang sakit. Deindustrialisai. Tentu tidak bijak menilai pemerintahan Jokowi sesuai dengan kehendak ekonomi ideal seperti janji PAS. Indonesia perlu terobosan yang memungkinkan ekonomi terus bergerak dengan segala keterbatasannya. Dan itu tidak mudah.

Sikap keras Jokowi memperbaiki struktur bisnis di Indonesia memang membuat stress pengusaha rente juga pengusaha seperti kamu. Tetapi ini harus dilakukan agar ekonomi sehat untuk semua.

Jokowi minta kita berubah, ya berubahlah. Kalau engga dilindas perubahan itu sendiri.

Kegagalan Ekonomi Turki karena Erdogan tidak punya keberanian melakukan kebijakan keras kepada pengusaha namun menekan keras kepada oposisi dan membungkam kebebasan rakyat.

Padahal ketika ekonomi terpuruk pengusaha duluan kabur, tinggal rakyat merasakan dampak buruknya. Itu juga terjadi di era Pak Harto. Akankah kita mengulang sejarah seperti era Pak Harto atau meniru Erdogan? Itulah yang ditawarkan oleh PAS. Silahkan kamu tentukan sikap. !

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan