Hukum Nasional

Satgas Pamtas Amankan Oknum Polisi Malaysia Penyeludup Miras

Krayan – Petugas Pos Gabma Long Midang SSK V Satgas Pamtas Yonif Raider 613/Raja Alam dan Tentara Diraja Malaysia TDM menangkap penyeludup minuman keras di Desa Long Midang Kecamatan Krayan Nunukan Kalimantan Utara, Sabtu (13/10/2018) lalu.

Penangkapan ini dibantu oleh Satgas Intelijen wilayah Krayan dan berkat kegiatan sweeping terhadap masyarakat pelintas batas.

“Pukul 13.30 Wita Tim Gabungan menghentikan mobil Isuzu Hilux warna merah dengan Nopol SAB 3477 W dari arah Malaysia untuk dilaksanakan pemeriksaan. Pada saat diperiksa, ditemukan kardus yang berisi Miras ilegal dengan merk Black Label dan Labour, kemudian barang bukti beserta pemiliknya diamankan menuju Pos Gabma Long Midang SSK V untuk dilaksanakan pemeriksaan lebih lanjut”, kata Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonif Raider 613/RJA, Letkol Inf Fardin Wardana, Selasa (16/10/2018) dalam siaran persnya.

Dari hasil penyelidikan sementara, kedua WNA tersebut bernama Wong Siew Ngie (55), pedagang di Serawak, Malaysia dan Koperal Polisi Mohammad Hasnain Bin Mohammad Ibrahim (34) asal Air Hitam Pantai Tanjung Bidara 78300 Masjid Tanah Malaka, Negeri Malaka Semenanjung, Malaysia.

Selain itu, Muhammad Hasnain adalah seorang anggota Polisi Diraja Malaysia (PDR) ikut diamankan karena masuk tanpa membawa dokumen imigrasi dan diduga membantu menyeludupkan miras ke wilayah Krayan.

“Kami sudah cek identitasnya benar anggota PDR Malaysia, saat ini pelaku kita serahkan ke Imigrasi Nunukan . Barang bukti kejahatan yang berhasil disita 57 botol miras merk black label dan 131 botol merk Labour. Kedua jenis miras tersebut sering kali beredar di Nunukan,” kata Fardin.

Secara terpisah, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian kantor Imigrasi klas II B Nunukan Bimo Mardi Wibowo mengaku telah menerima penyerahan 2 orang WNA Malaysia tahanan Satgas Pamtas.

“Mohammad Hasnain bin Mohammad Ibrahim anggota polisi berpangkat kopral. Sedangkan 1 orang temannya bernama Wong Siew Ngie masih di Krayan dan akan menyusul menunngu jadwal penerbangan,” bebernya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, keduanya mengaku masuk perbatasan Indonesia hanya berbekal IC/KTP Malaysia dan sejenis surat yang dikeluarkan oleh pos Imigrasi Malaysia di Bakelalan Lawas, Serawak, jelasnya.

Dokumen itu diakui mereka sebagai dokumen keimigrasian legal, sehingga dapat dicap keluar masuk khusus di wilayah perbatasan Indonesia di Krayan. Kepemilikan dokumen seperti itu dibenarkan selama tidak digunakan untuk melakukan kejahatan.”Kita lihat sisi kejahatan keduanya, apakah ada unsur melawan hukum keimigrasian Indonesia atau tidak,” pungkasnya.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan