Nasional Umum

JATAM : Investor di Kaltim Hanya Timbulkan Kerusakan Lingkungan, Belum Ada yang Benar Kelola SDA

Samarinda – Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur menilai hampir semua investor yang masuk ke daerah Kaltim hanya mengeruk sumber daya alam. Dan hanya meninggalkan kerusakan lingkungan.

“Banyak investor yang hanya mengeksploitasi atau ekstraksi sumber daya alam Kaltim. (Investor) Yang benar-benar mengelola sumber daya alam kita kayaknya tidak ada,” kata Dinamisator JATAM Kaltim, Pradana Rupang, Jumat (23/11/2018) lalu dihubungi medianusantara.co.

Para investor di Kaltim, menurut Rupang, hampir semua mengeruk bahan mentah dan diekspor langsung ke pembeli (domestik maupun luar negeri).

“Tidak ada nilai tambah atau produk turunannya. Atau bahasanya pemerintah itu hilirisasi,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, dampak kerusakan lingkungan sangat terasa bagi masyarakat di Kaltim. Diantaranya, contoh terbaru itu pertambangan bekas PT Kelian Equatorial Mining (KEM) di Kabupaten Kutai Barat masih meninggalkan limbah.

“Contoh yg mutakhir itu PT.KEM. Walaupun dia tutup sekitar tahun 2005. Daya rusak masih terasa. Air sungai Kelian masih tidak layak utk di minum. Karena masih terkontaminasi limbah tailing yang sumbernya dua dam,” kata Rupang.

Disebutkan Rupang, dua dam itu yaitu dam namuk dan dam makan. Dari perhitungan di dua dam tersebut, ada 77 juta metrik ton tailing yg mengendap serta di lubang pit.

“Limbah tailing ini ngendap di dasar dam dan tidak terurai. Sewaktu-waktu bisa jebol karena letak dam tersebut berada di ketinggian lebih dari 400 m diatas permukaan laut,” ujar Rupang.

Khusus tambang batubara, kerusakan lingkungan dari bekas kolam yang terbaru juga terus menelan korban jiwa. Catatan JATAM Kaltim, ada 32 anak yang sudah tewas di kolam tambang batubara akibat tak ditutup atau direklamasi.

“Bekas lubang tambang batubara di Kaltim mencapai 632 lubang. Tersebar, di Kutai Kartanegara paling tinggi ada 264 lubang, Samarinda 175 lubang, Kutai Timur 86 lubang, Paser ada 46 lubang, Kutai Barat 36 lubang, Berau 24 lubang dan Panajam Paser Utara 1 lubang,” ujar Rupang.

Rupang melanjutkan, penambang batubara hanya meninggalkan kolam bekas tambang tanpa direklamasi.

“Contoh sederhana PT.MHU itu PKP2B. Beberapa lubang tambang mereka nyatakan akan di reklamasi dan ditutup. Faktanya tidak terjadi dan lubang tambang milik perusahaan lainnya banyak yang masih belum clear (ditutup),” ujar Rupang.

Contoh lain penambang yang tak reklamasi atau menutup bekas lubang tambang adalah PT BBE. Dalam laporan perusahaan tersebut menyebutkan tak ada lubang.

“Padahal sebelum 2007 sudah ada tuh izinnya. Dan berproduksi jauh sebelum 2010. Kok laporannya nggak ada lubangnya. Itu laporan resmi pemerintah per Agustus 2016,” jelas Rupang.

Media Nusantara
Kami berusaha menyediakan informasi untuk semua kalangan baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, karyawan, politikus maupun pengusaha, karena kami sadar bahwa kebutuhan informasi dirasakan semua kalangan pada era globalisasi seperti ini.

Tinggalkan Balasan