4 Fakta Transaksi di Pelabuhan Wajib Pakai Rupiah hingga Biang Kerok 3.100 Kontainer Numpuk (Foto: Okezone)
JAKARTA – Seluruh transaksi di kawasan pelabuhan harus menggunakan mata uang Rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan akan menindak jika masih ada transaksi di pelabuhan yang menggunakan dolar Amerika Serikat (AS)
Di sisi lain, Purbaya menemukan 3.100 kontainer yang menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok yang dinilai mulai mengganggu kelancaran arus logistik dan pasokan bahan baku industri.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-faktanya, Jakarta, Senin (8/6/2026).
1. Purbaya Siap Hajar yang Pakai Dolar AS
Purbaya meminta pelaku usaha melaporkan apabila masih menemukan praktik penagihan atau pembayaran menggunakan dolar AS.
“Kalau ada dolar itu, laporin saya, nanti saya hajar dia,” tegas Purbaya di sela kunjungannya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu 6 Juni 2026.
Menurutnya, penggunaan Rupiah dalam transaksi di wilayah Indonesia telah diatur dalam ketentuan yang berlaku. Karena itu, praktik penggunaan Dolar AS untuk transaksi jasa di pelabuhan tidak dapat dibenarkan.
Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang bertentangan dengan aturan tersebut. Ia pun membuka ruang bagi pelaku usaha untuk melaporkan jika masih menemukan transaksi yang menggunakan mata uang asing di kawasan pelabuhan.
“Secara peraturan harusnya Rupiah. Dan ini kan di Indonesia. Alat transaksi yang dilakuin adalah Rupiah memang. Jadi kalau ada dolar, itu penyelewengan. Kasih tahu kami, kami akan tindak,” pungkasnya.
2. Penumpukan 3.100 Kontainer
Purbaya menerima laporan adanya lebih dari 3.100 kontainer yang menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok. Purbaya mengatakan, kunjungan ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk menindaklanjuti laporan yang diterimanya terkait penumpukan sekitar 3.000 dokumen yang berkaitan dengan 3.100 kontainer di pelabuhan terbesar di Indonesia tersebut.
“Jadi saya ke sini untuk menindaklanjuti informasi yang saya dapatkan, mungkin beberapa hari yang lalu. Bahwa terjadi penumpukan di Tanjung Priok suratnya sampai 3.000 surat. Dan itu berkaitan dengan kontainer sebanyak 3.100. Sebagian pengusaha sudah menemukan ada gangguan suplai bahan bahu,” ungkapnya.


