SAMARINDA – Kasus menyedihkan kembali mencuat di Samarinda. Seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun ditemukan warga dalam keadaan tangan terborgol setelah diduga mengalami kekerasan oleh ayah kandungnya.
Peristiwa ini langsung menarik perhatian Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronnie Pasie, yang turut menyuarakan keprihatinan dan menekankan pentingnya penguatan komunikasi dalam lingkungan keluarga.
Novan menjelaskan bahwa ia telah berkoordinasi dengan Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, yang turun langsung ke lokasi kejadian.
Menurutnya, proses penegakan hukum sepenuhnya menjadi ranah kepolisian, namun DPRD tetap memiliki peran dalam mendorong pencegahan agar kasus serupa tak terulang.
“Kami mendorong pengawasan yang lebih aktif di tingkat komunitas, terutama di level RT. Ketika lingkungan memiliki kepekaan sosial yang tinggi, potensi kekerasan bisa lebih cepat terdeteksi dan dicegah,” ujar Novan kepada awak media, Jumat (25/7/2025).
Berdasarkan kronologi yang beredar, anak tersebut nekat kabur dari rumah dengan memanjat jendela dan akhirnya ditemukan oleh warga dengan tangan masih terborgol.
Warga lalu melaporkan kejadian tersebut ke ketua RT dan aparat keamanan setempat. Saat ini, penyelidikan tengah dilakukan oleh Polsek Sungai Pinang.
Ayah korban yang berinisial HE (41) disebutkan melakukan pemborgolan sebagai bentuk kemarahan karena anaknya dianggap merusak motor milik tetangga.
Menurut Novan, kejadian ini menunjukkan adanya krisis komunikasi dalam keluarga yang kemudian berkembang menjadi kekerasan. Ia menilai bahwa peran keluarga sebagai benteng pertama perlindungan anak harus diperkuat kembali.
“Bukan hanya tugas polisi atau pemerintah, masyarakat sekitar juga punya peran. Kalau ada yang janggal di lingkungan, laporkan. Ini bentuk tanggung jawab sosial,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua warga memahami apa yang tergolong dalam kategori kekerasan terhadap anak. Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi publik mengenai bentuk-bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikologis.
“Kami akan dorong adanya program penyuluhan yang menyasar warga langsung, karena pemahaman yang rendah bisa membuat kekerasan dianggap hal biasa. Ini harus diluruskan,” tegas Novan.
Menutup pernyataannya, politisi Partai Golkar tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari instansi pemerintahan, lembaga sosial, hingga tokoh-tokoh lingkungan, untuk bersinergi menciptakan kondisi yang aman dan sehat bagi anak-anak.
“Anak adalah aset masa depan. Lingkungan yang ramah anak harus menjadi komitmen bersama, bukan hanya jargon,” pungkasnya. (Adv/AL)
Leave a Reply