Penyaluran KUR Tembus Rp96 Triliun, UMKM Berkontribusi Tekan Kemiskinan (Foto: Okezone)
JAKARTA – Kementerian Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) menitiberatkan peningkatan penyaluran kredit ke pelaku usaha berkorelasi pada penurunan angka kemiskinan. Modal usaha yang tersalurkan diklaim telah tepat sasaran.
“Program KUR menyasar kepada kelompok-kelompok masyarakat yang masuk di desil 1 sampai desil 4. Alhamdulillah bisa memberikan kontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan atau mengeluarkan saudara-saudara kita dari kategori kemiskinan ekstrem,” kata Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam jumpa pers di Mbloc, Jakarta Selatan, Senin (4/5/2026).
Maman mengungkapkan bahwa hingga awal Mei 2026, realisasi KUR mencapai Rp96 triliun dan menjangkau 1,5 juta debitur. Sebagian besar dialokasikan untuk pelaku usaha mikro sebesar Rp70 triliun.
“Sektor mikro ini berkontribusi terhadap upaya kita untuk menghilangkan kemiskinan ekstrem. Karena sebagian besar yang bekerja di situ, itu rata-rata juga keluarga-keluarga kita yang memang masuk dalam kategori miskin ekstrem,” urai Maman.
Maman mengatakan, soal alokasi kredit dari perbankan ke sektor UMKM di 10 tahun terakhir dalam tren menanjak. Secara total mencapai Rp1.000-an triliun, dengan pembagian kredit KUR dan non-KUR.
Meski pemberian fasilitas kredit terus dilakukan, Maman mengingatkan daya saing UMKM. Sejauh ini, produk impor masih menjadi momok bagi pelaku usaha dalam negeri sehingga sulit berkembang dan mendapatkan untung maksimal.
“Pada saat kami bantu UMKM dari sisi pembiayaan lalu dia bisa produksi barang, tapi UMKM-nya tidak bisa jual barangnya ke pasar. Dampaknya juga jadi kredit macet,” kata dia.
“(Pelaku UMKM) sudah bisa produksi barang, jualan makanan, minuman, ataupun gelas dan lain sebagainya, tapi pasar tidak menerima karena derasnya barang-barang impor dari luar,” imbuhnya.

