Semarang –
Akademi Kepolisian (Akpol) menggelar Upacara Penutupan Pendidikan Taruna Akpol Angkatan 58/Batalyon Ksatriya Hawin Sarwahita. Salah satu di antara lulusan terbaiknya adalah Adnan Kasweri, anak seorang kuli bangunan.
Adnan meraih predikat Ati Trengginas. Predikat tersebut merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan Akpol kepada lulusan yang ketangguhan fisik dan mentalnya terbaik. Skor jasmani kesehatan kelulusan Adnan mencapai 93,64.
Hal tersebut diumumkan dalam upacara yang dipimpin Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo di Lapangan Bhayangkara, Kompleks Akpol, Semarang Jawa Tengah (Jateng) pada Jumat (10/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Catatan detikcom, perjalanan Adnan sebagai taruna Akpol dimulai dari seleksi panitia daerah (panda) di Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Bangka Belitung (Babel) hingga akhir seleksi di tingkat panitia pusat (panpus) yang digelar Staf SDM (SSDM) Polri pada akhir Juli 2023. Kala itu Sudaryo, ayahanda Adnan, menyaksikan hasil Sidang Akhir Rekrutmen Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) 2023 dari lantai 1 Gedung Serbaguna Akpol menggunakan gawainya.
“Terima kasih ya Allah. Weri, Weri masuk Akpol, Nak,” ucap Sudaryo dengan suara bergetar, Senin (24/7/2023).
Ia tampak sendirian. Menjauh dari kerumunan ratusan kerabat dan keluarga calon taruna Akpol saat itu. Ia mengatakan hanya datang sendirian karena keterbatasan biaya.
“Untuk mengikuti pergerakan anak saya ini, saya ikutin dari nol sampai akhir, walaupun dalam keadaan yang minimal, tapi tidak mengurangi semangat saya. Karena saya dari awal melihat proses perekrutan ini benar-benar asli dan murni. Saya yakin dan percaya inilah faktanya yang saya rasakan,” ungkap Sudaryo tiga tahun silam.
Adnan Sempat Minder
Adnan, atau yang akrab disapa Weri, mengaku minder karena latar belakang keluarganya. Namun Kabareskrim Komjen Syahardiantono (saat itu Kadiv Propam) dan Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo (saat itu As SDM Polri) memberi pesan menyentuh kepadanya.
“Lalu katanya (Syahardiantono kepada Weri), semangat terus, jangan minder kalau orang tua kerja sebagai buruh harian. Kata Kadiv Propam, jangan minder karena sama-sama makan nasi,” ucap Weri.
“Pak As SDM sama, intinya menyemangati. Lalu saya diminta tunjukkan bakat saya. Saya hobi main voli, jadi saya tunjukin cara servis, smash bola voli,” sambung anak kedua dari empat bersaudara ini.
Weri mengungkapkan, nasihat dan semangat yang diberikan Irjen Syahardiantono dan Irjen Dedi Prasetyo kala itu membuat rasa mindernya hilang. Dengan dirinya yang masuk seleksi akhir Akpol dan semangat dari kedua jenderal Polri tersebut, Weri semakin yakin latar belakang keluarga bukan menjadi kendala dirinya mewujudkan cita-cita sebagai perwira polisi.
“Apa yang disampaikan Pak Kadiv Propam, Pak As SDM jadi pemicu saya lebih semangat lagi. Awal-awal datang memang ada rasa minder, tapi teman di sini juga semangatin sih,” tutur dia.
(aud/ygs)


