Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia —
Apakah kamu sering merasa gelisah saat harus berpisah dengan pasangan atau merasa tidak cukup dicintai? Kondisi ini bisa jadi pertanda bahwa kamu memiliki anxious attachment. Kenali pengertian, tanda, dan cara mengatasinya.
Anxious attachment merupakan salah satu gaya kelekatan (attachment style) saat seseorang cenderung merasa tidak aman dalam hubungan karena takut ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dicintai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini membuat seseorang khawatir tidak cukup baik untuk pasangannya atau selalu membutuhkan validasi bahwa kehadirannya berharga di dalam hidup pasangannya.
Penyebab anxious attachment
Mengutip WebMD, kondisi ini erat kaitannya dengan pola pengasuhan tidak konsisten yang diterima seseorang sejak ia masih bayi.
Orang tua atau pengasuh terkadang bersikap hangat dan perhatian, tapi di lain waktu mengabaikan kebutuhan emosional anak. Anxious attachment terjadi karena beberapa hal sebagai berikut.
- Trauma
- Emosi yang diabaikan
- Berpisah dari orang tua terlalu dini
- Pola asuh yang tidak konsisten
- Pengasuh kurang berpengalaman
- Pengasuh atau orang tua mengalami depresi
Tanda anxious attachment
Terdapat beberapa tanda seseorang memiliki gaya kemelekatan anxious attachment, melansir Cleveland Clinic.
- Terlalu fokus dan memprioritaskan kebutuhan pasangan alih-alih kebutuhan sendiri
- Takut ditolak atau ditinggalkan
- Mempertanyakan harga diri
- Adanya kebutuhan validasi yang kuat bahwa Anda dicintai
- Kecemasan yang tinggi
- Cemburu berlebihan dalam sebuah hubungan
- Sulit menetapkan batasan yang sehat
- Kesulitan memahami emosi sendiri
Cara mengatasi anxious attachment
|
|
Apa anxious attachment bisa diatasi? Rupanya gaya kemelekatan satu ini bisa diatasi asal kamu mengetahui pemicu atau penyebabnya.
1. Kenali pemicunya
Memahami hal-hal yang memicu anxious attachment dapat membantu mengatasinya.
Kamu bisa membuat catatan mengenai situasi saat merasa diabaikan atau butuh kepastian. Setelah itu, tanyakan pada diri sendiri apakah perasaan tersebut mengingatkan akan sesuatu di masa lalu.
Kamu juga bisa meminta bantuan pasangan untuk mengenali kondisi seperti apa yang membuat kecemasan itu muncul.
2. Ungkapkan kebutuhan
Komunikasi merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu hubungan. Karena itu, jika memiliki anxious attachment, ada baiknya untuk mengungkapkan kecemasan itu kepada pasangan.
Katakan, misal, bahwa kamu merasa cemas setiap pasangan meninggalkan rumah, atau saat seorang teman tidak merespons pesan teks.
Hindari kalimat yang menekankan pada “kamu” seperti, “Kamu membuatku cemas.” Fokuslah pada “aku” dan apa yang dirasakan.
3. Bangun rasa percaya diri dan prioritaskan kebutuhan sendiri
Jangan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaanmu.
Cobalah untuk melakukan aktivitas lain yang membuat bahagia, seperti melakukan hobi, menonton konser, atau olahraga pada waktu luang. Kegiatan inilah yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi anxious attachment.
4. Tetapkan batasan
Batasan yang sehat dalam sebuah hubungan dapat melindungi jika suatu hari menghadapi permasalahan dengan pasangan. Cobalah mengetahui kapan kamu harus memberi ruang pada pasangan dan menjaga jarak emosional.
(pua/els)
Add
as a preferred
source on Google


