Pemerintah mempertahankan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di level 5 persen guna menjaga keterjangkauan cicilan rumah. (foto: Okezone.com/PU)
JAKARTA – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tetap sebesar 5 persen flat hingga masa angsuran berakhir. Kebijakan tersebut tetap diberlakukan meski terjadi tren kenaikan BI Rate, melalui intervensi dengan mempertahankan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di level 5 persen guna menjaga keterjangkauan cicilan rumah bagi masyarakat.
“Kami memastikan negara hadir dan berpihak kepada rakyat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah. Walaupun terdapat dinamika ekonomi dan peningkatan BI Rate, bunga FLPP tetap dijaga sebesar 5 persen agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap rumah yang layak dan terjangkau,” kata Maruarar, Minggu (21/6/2026).
Di samping itu, Maruarar turut menegaskan bahwa skema tenor KPR FLPP dengan jangka waktu mencapai 40 tahun yang digulirkan atas instruksi Presiden Prabowo Subianto telah dikaji secara mendalam dan dinyatakan siap diimplementasikan sesuai dengan ketentuan serta regulasi yang berlaku.
Sementara itu, jika ditilik dari target penyaluran FLPP tahun anggaran 2026 sebesar 350.000 unit, capaian realisasinya sejauh ini telah menyentuh angka 78.277 unit rumah, atau berkisar 22,36 persen dari total target tahunan tersebut.
Maruarar juga menyoroti perkembangan terkait progres penyelesaian proyek pembangunan Rumah Susun (Rusun) Meikarta. Pemerintah bersama pihak Danantara Indonesia tengah merumuskan berbagai langkah strategis, mencakup proses serah terima aset hibah, percepatan proses uji tuntas (due diligence) terkait keabsahan tanah oleh Danantara, hingga penunjukan BUMN yang nantinya akan diserahi mandat eksekusi proyek tersebut.
Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juni 2026. Bersamaan dengan kebijakan tersebut, otoritas moneter turut mengerek bunga deposit facility ke posisi 4,75 persen dan menaikkan bunga lending facility sebesar 25 bps hingga menyentuh level 6,5 persen.
Langkah pengetatan moneter ini dinilai BI sangat krusial guna memperkokoh stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar global, sekaligus sebagai kebijakan antisipatif (preemptive) untuk mengawal agar laju inflasi pada periode 2026 dan 2027 tetap terkendali dalam rentang kisaran 2,5 plus minus 1 persen sesuai dengan target pemerintah.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.


