Jakarta –
Ketua DPP PSI Bestari Barus mengaku heran dengan PDIP yang terus-terusan mengomentari Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), padahal sudah tidak lagi menjadi kadernya. Bestari menanggapi komentar Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira yang meminta Jokowi membawa ijazah saat safari.
“Iya, harap maklum saja. Saya juga heran gitu. Kenapa para anggota DPR RI PDIP ini lebih senang mengomentari PSI dan Pak Jokowi ketimbang bekerja untuk rakyat, gitu. Dan berapa anggota dewan tuh Hugua, Deddy Sitorus. Apa di PDIP tuh enggak ada kerjaan lain apa ya?” kata Bestari kepada wartawan saat dihubungi, Sabtu (4/7/2026).
Bestari menyinggung PDIP yang telah mengeluarkan Jokowi sebagai kader. Namun, sampai saat ini masih saja terus dikomentari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selain menanggap-nanggapi yang katanya mereka sudah keluarkan dari PDIP, sudah enggak peduli tapi bohong, gitu. Dan masyarakat umum melihatnya sebagai ya, lawak-lawak saja ini partai PDI Perjuangan ini,” ujarnya.
“Makin ke sini makin jadi tukang lawak, gitu. Ya, seperti itu ya dimaklumi sajalah buat meramai-ramaikan mereka supaya kelihatan ada omongan kan, gitu. Kita sih udah enggak berharap mereka mengomentari. Iya toh? Ya yang disampaikan juga aneh,” lanjutnya.
Terkait ijazah Jokowi, menurutnya, PDIP merupakan partai yang berulang kali mengusung Jokowi dalam berbagai kontestasi pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden bersama partai politik lain. Bestari menilai mustahil PDIP tidak pernah memeriksa kelengkapan administrasi, termasuk ijazah Jokowi, saat proses pencalonan.
“Orang, partai mereka yang membawa berkas Pak Jokowi mencalonkan. Lima kali Pak Jokowi ini dicalonkan dan lima-lima kalinya tuh memang karena, karena diterima masyarakat, dia menang berturut-turut. Dan ijazahnya itu kan, masa enggak dipelototin sama PDIP, gitu? Nah, kan lima kali mereka mencalonkan bersama partai-partai politik lainnya, bukan sendiri itu. Entar dia pikir sendiri lagi,” ujarnya.
Menurut Bestari, jika memang ada persoalan terkait keabsahan ijazah Jokowi, semestinya hal itu sudah muncul sejak proses pencalonan yang dilakukan PDIP. Oleh karena itu, ia menilai upaya kembali menggulirkan isu tersebut hanya akan memancing polemik di ruang publik.
“Nah, masa matanya pada enggak melotot, gitu? Terus hari ini memanas-manaskan publik, seakan publik enggak tahu bahwa mereka yang mencalonkan Pak Jokowi dan mereka sudah melihat ijazah itu. Kalau memang kemampuan nalar yang ada di partai itu seperti itu, ya mbok kita menerima aja, gitu loh,” ujarnya.
Bestari lantas mengungkap respons Jokowi yang kerap disindir PDIP. Ia menyebut Jokowi tanya tertawa saja.
“Beliau tertawa aja. Senyum aja. Ya, yang hancur lebur hatinya kan yang marah-marah. Ke sana sini bilangnya kami sudah enggak anggap lagi, kami sudah enggak peduli. Tapi ngomong terus. Ya, prihatin saja. Katanya partai ini besar, tapi besar omong doang, gitu. Ngomongin orang yang sudah dia tidak lagi bersamaannya itu,” ujarnya.
Sebelumnya, Andreas Hugo Pareira merespons rencana Jokowi yang akan melanjutkan safari ke NTT usai Lampung. Ia berpesan agar Jokowi membawa ijazahnya saat safari.
“Sebaiknya kalau ke sana (NTT) bawa ijazahnya sehingga, kalau ditanya, tunjukkan ke masyarakat,” kata Andreas saat dihubungi, Sabtu (4/7/2026).
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI ini mengatakan kasus ijazah Jokowi sudah berlangsung terlalu lama. Sehingga, kata dia, ijazah Jokowi bisa menjawab pertanyaan publik.
“Karena kasus beliau ini sudah sekian lama, menguras perhatian publik, dan secara sosial juga menjadi pertanyaan publik,” ucap dia.
(eva/idh)


