Jakarta

Stasiun Gambir menjadi salah satu ikon perkeretaapian di Jakarta yang memiliki perjalanan panjang sejak era kolonial hingga masa modern. Kini, nama stasiun tersebut kembali menjadi sorotan setelah muncul wacana pengoperasian layanan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Gambir.

Rencana tersebut mengingatkan kembali perjalanan panjang Stasiun Gambir yang pernah melayani kereta rel listrik sebelum akhirnya fokus sebagai stasiun kereta api jarak jauh (KAJJ). Lantas, seperti apa sejarah Stasiun Gambir hingga muncul kembali wacana tersebut?

Berawal dari Halte Kecil di Kawasan Koningsplein

Merujuk informasi yang dibagikan melalui akun resmi KAI, cikal bakal Stasiun Gambir bermula dari sebuah halte sederhana bernama Halte Koningsplein yang berdiri pada 1871. Halte ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di kawasan yang saat itu masih berupa tanah rawa, tepatnya di sekitar Lapangan Raja atau Koningsplein yang kini menjadi kawasan Silang Monas.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Halte tersebut melayani perjalanan kereta Batavia menuju Buitenzorg atau Bogor. Seiring meningkatnya jumlah penumpang, NISM kemudian membangun Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884 di lokasi Stasiun Gambir saat ini. Bangunan baru itu memiliki konstruksi yang lebih kokoh dengan atap besi yang ditopang tiang besi cor.

Berganti Nama hingga Menjadi Stasiun Gambir

Menurut keterangan KAI, pengelolaan Stasiun Weltevreden beralih kepada Staatsspoorwegen (SS) pada 1913. Setelah itu dilakukan renovasi besar pada 1928 sehingga bangunan stasiun mengusung gaya arsitektur art deco dengan perluasan atap di sisi utara.

Pada 1937, nama stasiun berubah menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu, stasiun tersebut menjadi salah satu simpul transportasi terpenting di Hindia Belanda karena hampir seluruh perjalanan kereta api jarak jauh singgah di lokasi tersebut.

KAI juga menjelaskan bahwa penyebutan nama Stasiun Gambir diduga mulai populer sekitar 1922 ketika masyarakat lebih sering menyebut kawasan Koningsplein sebagai Lapangan Gambir. Nama itu kemudian terus digunakan hingga setelah Indonesia merdeka.

Pernah Layani KRL Sebelum Jadi Stasiun Layang

Transformasi besar kembali terjadi pada 1988 ketika pemerintah membangun jalur layang Jakarta Kota-Manggarai. Bangunan lama Stasiun Gambir dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang diresmikan pada 5 Juni 1992.

Bangunan tiga lantai dengan empat jalur kereta itu mengadopsi bentuk atap bergaya Joglo yang masih menjadi ciri khas hingga sekarang. Berdasarkan keterangan KAI dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang dilansir Antara, saat peresmian stasiun baru Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto bahkan sempat menaiki KRL dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Jakarta Kota.

Setelah diresmikan sebagai stasiun layang, Stasiun Gambir masih melayani perjalanan KRL selama beberapa tahun. Namun, layanan KRL di Stasiun Gambir resmi dihentikan pada 2012. Pemberhentian KRL kemudian dialihkan ke Stasiun Gondangdia dan Stasiun Juanda, sementara Stasiun Gambir difokuskan sebagai stasiun utama yang melayani perjalanan kereta api jarak jauh.

Kembali Muncul Wacana soal Layanan KRL

Wacana mengembalikan layanan KRL di Stasiun Gambir kembali mencuat seiring rencana transformasi kawasan stasiun. Meski sudah beberapa kali dibahas dalam beberapa tahun terakhir, hingga kini rencana tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum direalisasikan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah tengah menyiapkan transformasi Stasiun Gambir agar dapat melayani kereta api jarak jauh sekaligus KRL. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari program beautifikasi untuk memperkuat konektivitas transportasi perkeretaapian.

“Nanti (Stasiun) Gambir yang selama ini melayani kereta jarak jauh, akan dikombinasikan dengan layanan KRL,” kata Menhub dalam bincang bersama awak media di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Ia menegaskan kehadiran layanan KRL di Stasiun Gambir tidak akan mengurangi peran Stasiun Manggarai sebagai simpul utama perkeretaapian. Sebaliknya, kedua stasiun akan memiliki fungsi yang saling melengkapi sehingga perpindahan penumpang antarmoda menjadi lebih mudah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub Allan Tandiono mengatakan PT KAI saat ini sedang memfinalisasi perencanaan dan desain program beautifikasi Stasiun Gambir. Menurutnya, proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu sekitar dua tahun.

“Terkait beautifikasi Gambir sekarang ini PT KAI sedang finalisasi perencanaannya, desainnya, dan seperti disampaikan oleh Dirut KAI targetnya dua tahun penyelesaiannya,” ujar Allan Tandiono, dilansir Antara, Sabtu (27/6/2026).

Apabila terealisasi, Stasiun Gambir akan kembali melayani KRL setelah lebih dari satu dekade berhenti menjadi pemberhentian kereta komuter. Pemerintah berharap pengembangan tersebut dapat menghadirkan layanan transportasi yang lebih terintegrasi sekaligus meningkatkan kenyamanan penumpang.

(wia/imk)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version