5 Fakta Rupiah Anjlok Rp17.600, Purbaya Bandingkan Krisis 1998 hingga Harga BBM Bakal Naik (Foto: Okezone)
JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis baru Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat 15 Mei 2026. Pelemahan Rupiah Rp17.600 per dolar AS ini terendah sepanjang sejarah dan akan menimbulkan efek domino.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak akan tinggal diam. Dirinya akan membantu menstabilkan nilai tukar Rupiah tetapi membutuhkan waktu. Bahkan, dirinya mengklaim, fondasi ekonomi Indonesia saat ini lebih baik dan tidak sejelek seperti krisis 1998.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Rupiah melemah ke level Rp17.600 per dolar AS, Jakarta, Senin (18/5/2026).
1. Penyebab Rupiah Anjlok ke Rp17.600 per Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp17.600 per dolar AS dipicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta prospek kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (AS).
Menurut Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS menjadi tekanan ganda bagi mata uang Garuda.
“Dolar menguat cukup tajam, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan Rupiah. Ini memang suatu ujian bagi Indonesia,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
2. Sentimen Luar Negeri dan Domestik
Faktor utama yang menekan pasar adalah meningkatnya tensi militer di Selat Hormuz. Latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran serta insiden tenggelamnya kapal kargo di lepas pantai Oman memicu kekhawatiran gangguan jalur perdagangan minyak global.
Selain itu, sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membantu transportasi minyak Iran semakin memperkeruh situasi. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring kesiapan AS melakukan serangan terbuka di kawasan tersebut.
Dari sisi moneter AS, pasar mulai berekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat tidak akan menurunkan suku bunga pada 2026. Hal ini dipicu oleh tingginya inflasi dan lonjakan harga bensin di AS.
Kondisi tersebut membuat indeks dolar tetap berada pada posisi kuat, ditambah sentimen perang dagang antara AS dan Tiongkok.
Meskipun pasar domestik sedang tutup, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus memantau dan melakukan intervensi di pasar internasional guna meredam volatilitas. Ibrahim mencatat adanya pergerakan intervensi yang cukup efektif pada pagi ini.
“Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar hari Senin (18/5),” jelas Ibrahim.
Ibrahim memperingatkan adanya potensi beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi bahan bakar minyak (BBM), mengingat 85 persen dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk kebutuhan subsidi.
Jika tekanan berlanjut, ia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk. Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
“Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia dalam pertemuan bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga, bisa 25 basis poin sampai 50 basis poin. Tujuannya untuk menstabilkan rupiah,” pungkasnya.
Meski demikian, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.



