Daftar Isi



Jakarta, CNN Indonesia

Menghadapi orang terdekat yang tiba-tiba memilih diam saat terjadi masalah bisa terasa melelahkan. Pesan tidak dibalas, percakapan dihindari, dan konflik dibiarkan menggantung tanpa kejelasan.

Dalam sebuah hubungan, diam sebenarnya tidak selalu buruk. Sebagian orang memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum membicarakan masalah. Namun, diam bisa menjadi persoalan ketika digunakan untuk menghukum, mengontrol, atau membuat orang lain merasa bersalah.

Perilaku ini kerap dikaitkan dengan silent treatment, ostracism, atau stonewalling. Bentuknya bisa berupa sengaja mengabaikan seseorang, menolak berkomunikasi, atau menarik diri saat konflik terjadi.



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menyebut silent treatment sebagai salah satu bentuk pengucilan dalam hubungan dekat. Penelitian tersebut menemukan bahwa perilaku ini dapat merusak kesejahteraan emosional dan menurunkan kualitas hubungan, terutama jika tidak diikuti dengan komunikasi yang sehat.

Jika Anda sedang mengalaminya, berikut beberapa cara menghadapi orang yang melakukan silent treatment:

1. Jangan langsung mengejar secara berlebihan

Ketika seseorang tiba-tiba diam, reaksi pertama yang sering muncul adalah panik. Anda mungkin merasa ingin terus mengirim pesan, menelepon, atau memaksa orang tersebut segera memberikan penjelasan.

Padahal, mengejar secara berlebihan justru dapat membuat kondisi emosional semakin tidak seimbang. Cobalah mengambil jeda sejenak dan menenangkan diri terlebih dahulu agar respons yang diberikan tidak didorong oleh rasa takut, marah, atau cemas.

2. Bedakan antara butuh jeda dan sedang menghukum

Tidak semua sikap diam merupakan silent treatment. Ada orang yang memilih diam karena merasa kewalahan dan membutuhkan waktu untuk mengelola emosinya. Namun, ada pula yang sengaja diam untuk menghukum atau membuat lawan bicara merasa bersalah.

Perhatikan polanya. Jika seseorang meminta waktu untuk menenangkan diri lalu kembali membahas masalah, itu bisa menjadi bentuk jeda yang sehat. Sebaliknya, jika ia berulang kali menghilang tanpa penjelasan, menolak berkomunikasi, atau membuat Anda terus menebak-nebak, pola tersebut patut diwaspadai.

3. Tanyakan dengan tenang

Saat situasi mulai mereda, cobalah mengajak bicara tanpa nada menyerang atau menyalahkan.

Gunakan kalimat yang jelas dan terbuka, misalnya, “Aku merasa kamu sedang menjauh. Kalau kamu memang butuh waktu untuk tenang, aku bisa memberi ruang. Tapi aku berharap kita tetap membicarakan masalah ini nanti.”

Pendekatan seperti ini memberi kesempatan bagi orang lain untuk menenangkan diri, sekaligus menunjukkan bahwa masalah tidak bisa dibiarkan menggantung begitu saja.

4. Tetapkan batas waktu yang jelas

Jeda dalam komunikasi yang sehat tetap membutuhkan batas. Mengambil waktu beberapa menit atau beberapa jam tentu berbeda dengan mendiamkan seseorang selama berhari-hari tanpa kepastian.

Menetapkan batas waktu dapat membantu menjaga kebutuhan ruang pribadi kedua belah pihak tanpa membiarkan diam berubah menjadi alat untuk menghukum.

5. Jangan membalas dengan diam

Membalas silent treatment dengan sikap serupa sering kali hanya memperpanjang konflik. Kedua pihak sama-sama menutup diri, sementara masalah yang sebenarnya tidak pernah terselesaikan.

Manfaat sikap diam sangat terbatas jika tidak diikuti komunikasi yang konstruktif. Jeda hanya akan berguna ketika digunakan untuk menenangkan diri sebelum kembali berdiskusi dan mencari solusi bersama.

Karena itu, tidak masalah mengambil jarak sementara, asalkan tetap mengomunikasikan niat untuk menyelesaikan persoalan.

6. Jangan terus-menerus mencari validasi

Saat didiamkan, seseorang bisa merasa harus terus meminta maaf, bahkan ketika belum memahami kesalahan yang sebenarnya terjadi. Kondisi ini dapat memunculkan rasa bersalah, takut ditinggalkan, hingga kecemasan bahwa hubungan akan berakhir.

American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa ostracism atau pengucilan sosial dapat berdampak besar terhadap emosi, perilaku, serta rasa memiliki seseorang.

Karena itu, jangan menganggap remeh perilaku mendiamkan yang terjadi terus-menerus, terutama jika membuat Anda merasa harus selalu mengejar pengakuan atau validasi dari orang lain.

7. Pertimbangkan bantuan profesional

Jika silent treatment terjadi berulang kali, berlangsung dalam waktu lama, disertai manipulasi, ancaman, atau membuat seseorang takut menyampaikan pendapatnya, bantuan profesional bisa menjadi pilihan.

Konseling pasangan, konseling keluarga, maupun psikolog dapat membantu mengidentifikasi pola komunikasi yang tidak sehat dan menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan konflik.

(anm/tis)


Add

as a preferred
source on Google





[Gambas:Video CNN]





Source link

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version