Surabaya, CNN Indonesia —
Di tengah musim kemarau yang melanda Jawa Timur, hujan dengan intensitas lebat justru mengguyur Surabaya dalam dua hari berturut-turut, yakni pada Senin (22/6) dan Selasa (23/6). Akibatnya banjir mengepung puluhan titik di Kota Pahlawan. BMKG Juanda pun mengungkap penyebabnya.
Prakirawan BMKG Juanda Bhilda Maulida menjelaskan, kondisi kemarau tidak serta-merta menutup peluang turunnya hujan. Bhilda mengungkapkan, biang keladi hujan lebat ini adalah suhu air laut di sekitar Selat Madura yang lebih hangat dari biasanya, sehingga memicu kelembapan atmosfer yang tinggi.
“Hujan lebat yang terjadi di area Surabaya pagi ini, terpantau akibat suhu muka air laut di sekitar Selat Madura yang cukup hangat, sehingga kondisi atmosfer menjadi cukup lembap,” kata Bhilda saat dikonfirmasi, Selasa (23/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor lain yang memperparah situasi adalah pola pergerakan angin di atas Surabaya. BMKG Juanda memantau pola konvergensi atau pertemuan arah angin dari berbagai penjuru yang disertai perlambatan kecepatan angin. Kombinasi inilah yang mempercepat tumbuhnya awan-awan hujan.
“Ada pola konvergensi atau pertemuan arah angin dalam skala lokal dan kecepatan angin juga mengalami perlembatan, sehingga mendukung untuk pertumbuhan awan hujan,” ucapnya.
Meski demikian, BMKG Juanda memperkirakan curah hujan di sejumlah wilayah Surabaya masih akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan, namun dengan intensitas yang berangsur menurun.
Cuaca ekstrem
Banjir pertama melanda Surabaya pada Senin (22/6) subuh, merendam 17 titik dengan genangan tertinggi 50 sentimeter di kawasan Stikosa AWS, Nginden Jangkungan, Sukolilo. Penanganan sempat terkendala pasang air laut yang menghambat pemompaan.
Hujan kembali turun Selasa (23/6) dini hari dan merendam 16 titik. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 60 sentimeter, dengan titik terparah di Jalan Simo Kalangan, Sukomanunggal. Genangan tersebar di sepuluh kecamatan, termasuk di sekitar fasilitas kesehatan.
“Dari 16 titik genangan yang kami catat, 12 lokasi sudah surut. Masih ada 4 lokasi yang belum surut hingga update pukul 11.00 WIB, yaitu di Jalan Nginden Intan Timur, Jalan Taman Panjang Jiwo Permai, Jalan Manyar Rejo, dan Jalan Raya Pandugo,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya Linda Novanti.
Pantauan CNNIndonesia.com di salah satu titik banjir, yakni di kawasan Nginden Intan Timur, ketinggian air mencapai 30-50 sentimeter. Hal itu membuat aktivitas warga terganggu. Namun sejumlah anak-anak justru asyik bermain.
“Ini tadi pagi gak setinggi ini,” kata salah satu warga setempat, Wisnu Priyo (32).
Selain banjir, cuaca ekstrem turut menyebabkan empat pohon tumbang di Surabaya. Linda menyebut kejadian tersebar di Jalan Diponegoro Tegalsari, Jalan T.A.I.S. Nasution Genteng, Jalan Pagesangan Agung Baru Jambangan dan Jalan Wiguna II Gunung Anyar.
“Keempat pohon tumbang sudah selesai ditangani oleh petugas gabungan BPBD dan DLH,” kata Linda.
Jenis pohon yang tumbang beragam, mulai dari tabebuia, nangka, sengon, hingga trembesi, dengan tinggi antara 5 hingga 20 meter.
Tak hanya itu, satu unit rumah di Jalan Kalijudan No. 80, Kecamatan Mulyorejo, dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian atap. Linda menyebut laporan masuk pada pukul 05.51 WIB.
“Satu kepala keluarga dengan lima jiwa terdampak, namun korban jiwa dan luka nihil,” ujar Linda.
Atap yang ambruk menimpa kamar tidur dan ruang tamu bagian depan. Petugas langsung mengamankan area dan mendistribusikan bantuan kepada penghuni terdampak.
(frd/dmi)
Add

as a preferred
source on Google

