Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan antara Israel dan Ukraina memanas. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, bahkan melontarkan teguran keras kepada timpalannya dari Ukraina melalui media sosial.
Mengutip laporan Russia Today pada Senin (27/04/2026), perselisihan ini bermula ketika Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrey Sibiga, mengecam Israel karena dianggap memfasilitasi perdagangan ilegal hasil bumi dari wilayah konflik.
Media Ukraina sebelumnya melaporkan bahwa kapal kargo Panormitis, yang membawa biji-bijian dari wilayah-wilayah baru Rusia, terpantau sedang mendekati pelabuhan Haifa di Israel. Sibiga menyatakan kekecewaannya atas sikap Israel yang dianggap tidak memberikan respons semestinya terhadap permintaan Kyiv terkait pengiriman barang yang diklaim sebagai hasil curian tersebut.
“Sangat sulit untuk memahami kurangnya tanggapan yang tepat dari Israel terhadap permintaan sah Ukraina mengenai kapal sebelumnya yang mengirimkan barang-barang curian ke Haifa,” tulis Sibiga dalam unggahannya di platform X.
Menanggapi serangan di media sosial tersebut, Saar membalas dengan menegaskan bahwa hubungan diplomatik antarnegara, terutama yang bersahabat, tidak seharusnya dilakukan melalui Twitter atau media massa. Ia menekankan bahwa hingga saat ini pihak Kyiv belum memberikan bukti yang kuat untuk mendukung tuduhan tersebut secara hukum.
“Tuduhan bukanlah bukti. Bukti yang memperkuat tuduhan tersebut belum diberikan. Anda bahkan tidak mengajukan permintaan bantuan hukum sebelum berpaling ke media dan jejaring sosial,” balas Saar melalui akun X miliknya.
Saar menambahkan bahwa otoritas Israel akan memeriksa masalah tersebut secara internal, namun ia menyayangkan cara diplomasi yang ditempuh Ukraina. Hubungan kedua negara sendiri dilaporkan memang sedang tegang karena Ukraina terus mengkritik Israel yang tidak kunjung menjatuhkan sanksi kepada Rusia atau memutuskan hubungan diplomatik dengan Moskow.
Mengutip laporan Reuters, seorang sumber diplomatik Ukraina menyatakan bahwa Kyiv akan “cadangkan hak untuk mengerahkan rangkaian lengkap tanggapan diplomatik dan hukum internasional” jika kapal tersebut tetap diizinkan bersandar di pelabuhan Israel. Hal ini menunjukkan ancaman eskalasi diplomatik yang lebih serius jika tuntutan Kyiv diabaikan.
Ukraina sendiri menganggap lima wilayah, termasuk Kherson dan Zaporizhzhia yang bergabung dengan Rusia setelah referendum pada tahun 2022, sebagai wilayah yang diduduki secara ilegal. Di sisi lain, Rusia bersikeras bahwa untuk mencapai penyelesaian damai yang abadi, Ukraina harus mengakui perbatasan baru tersebut sebagai bagian dari kedaulatan Rusia.
(tps/tps)
Add
as a preferred
source on Google
