Jakarta, CNBC Indonesia – Minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia. India menjadi salah satu pasar terbesar bagi CPO Indonesia.

Dengan besarnya pasar CPO Indonesia ke India, kunjungan pemimpin India  Perdana Menteri India Narendra Modi pekan ini  pun menjadi sangat penting.

Kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia menjadi kunjungan balasan setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan Hari Republik India pada Januari 2025.

Pada Selasa (7/7/2026), Prabowo dan Modi dijadwalkan menggelar pertemuan empat mata di Istana Merdeka, yang dilanjutkan dengan pertemuan bilateral dan penandatanganan sejumlah kerja sama.

 

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kesepakatan yang akan diteken mencakup sejumlah sektor strategis.

“Di berbagai bidang ada di bidang pertahanan, ada di bidang pendidikan, kemudian di bidang kesehatan, kemudian ada juga di bidang pengembangan teknologi,” ujar Sugiono.

Hubungan Indonesia dan India sendiri tidak hanya tercermin dari kerja sama antar-pemerintah.

Aktivitas perdagangan kedua negara juga terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Bagi Indonesia, India merupakan salah satu pasar ekspor terbesar untuk berbagai komoditas, termasuk crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.

Menurut Badan Pusat Statstik (BPS) India masih menjadi negara tujuan utama ekspor CPO dan turunannya (HS 1511) selama Januari-Mei 2026.

Nilai ekspor mencapai US$1,14 miliar atau sekitar Rp 21,42 triliun atau sekitar 11,9% dari total ekspor CPO Indonesia. Nilai total ekspor CPO pada periode Januari-Mei 2026 yang sebesar US$9,59 miliar atau sekitar Rp 172,62 triliun (US$1= Rp 18.000).

Di bawah India terdapat Pakistan dengan nilai ekspor US$992,8 juta, disusul China sebesar US$952,8 juta.

Bangladesh melengkapi kelompok pasar terbesar dengan nilai US$649,3 juta. Empat negara tersebut menyerap sekitar 39% dari total ekspor CPO dan turunannya Indonesia selama lima bulan pertama 2026.



Posisi India sebagai pembeli terbesar juga terlihat dari volume pengiriman. Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor ke negara tersebut mencapai 1,06 juta ton. Pakistan berada di posisi berikutnya dengan 941,8 ribu ton, disusul Tiongkok 923,6 ribu ton dan Bangladesh 614,5 ribu ton.

Meski masih menjadi pasar terbesar secara kumulatif, pengiriman ke India pada Mei 2026 turun tajam.

Nilai ekspor tercatat US$38,48 juta, merosot 85,63% dibandingkan Mei 2025 dan turun 79,14% dibandingkan April 2026.

Dari sisi volume, ekspor menyusut menjadi 31,4 ribu ton dari 272,1 ribu ton pada Mei tahun lalu.

Sementara itu, Pakistan dan Bangladesh juga mencatat perlambatan pada Mei. Nilai ekspor ke Pakistan turun 1,67% secara tahunan menjadi US$166,9 juta, sedangkan Bangladesh turun 25,52% menjadi US$82,27 juta.



Namun secara kumulatif Januari-Mei 2026, Pakistan masih membukukan ekspor hampir US$1 miliar, sementara Bangladesh mencapai US$649,3 juta.

Dampak India dan Kondisi CPO Indonesia 

Pelemahan pengiriman ke India terjadi ketika ekspor CPO dan turunannya Indonesia secara keseluruhan juga mengalami perlambatan pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan volume ekspor komoditas HS 1511 mencapai 1,19 juta ton, turun 36,71% dibandingkan Mei 2025 dan melemah 36,27% dibandingkan April 2026.

Dari sisi nilai, ekspor CPO dan turunannya tercatat sebesar US$1,37 miliar pada Mei 2026. Nilai tersebut turun 26,14% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan menyusut 35,07% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

Meski demikian, secara kumulatif kinerja ekspor masih mencatat pertumbuhan. Selama Januari-Mei 2026, volume ekspor mencapai 8,92 juta ton atau naik 7,41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor juga meningkat 7,71% menjadi US$9,59 miliar.

Perlambatan pada Mei belum menghapus pertumbuhan ekspor sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Penurunan pengiriman pada bulan terakhir lebih mencerminkan pelemahan yang terjadi di sejumlah pasar utama, termasuk India, dibandingkan perubahan tren ekspor secara keseluruhan.

Kondisi tersebut sejalan dengan pelemahan impor minyak sawit India. Melansir The Hindu Business Line, impor palm oil India pada Juni 2026 turun 10,5% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 492 ribu ton. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam 14 bulan atau sejak April 2025.

 

Penurunan pembelian terjadi ketika permintaan domestik melemah dan selisih harga minyak sawit dengan minyak nabati lain semakin menyempit.

Tidak hanya minyak sawit, impor minyak kedelai India juga turun 23% menjadi 381 ribu ton, sementara impor minyak bunga matahari merosot 17,5% menjadi 244 ribu ton. Secara keseluruhan, impor minyak nabati India menyusut 16,6% secara bulanan menjadi 1,1 juta ton pada Juni.

Presiden All India Edible Oil Traders Federation Shankar Thakkar mengatakan berkurangnya pembelian India berpotensi meningkatkan persediaan di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia. Kenaikan stok tersebut dinilai dapat memberi tekanan terhadap harga minyak sawit global dalam beberapa waktu ke depan.

India selama ini mengandalkan Indonesia dan Malaysia sebagai pemasok utama minyak sawit. Karena itu, perlambatan impor di negara tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi permintaan ekspor CPO Indonesia ke depan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)



Add



as a preferred

source on Google






Source link

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version