AMUK angin puting beliung yang menyertai hujan lebat melanda sedikitnya tiga wilayah kecamatan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu sore, 29 April 2026. Terjangan angin itu mengakibatkan puluhan bangunan mengalami kerusakan serius, sejumlah pohon tumbang hingga jaringan listrik terputus.
Hingga pemutakhiran data pada Rabu malam, Kecamatan Ngaglik tercatat menjadi wilayah yang paling terdampak. Tercatat belasan rumah warga, dua rumah kos, satu rumah joglo, hingga sebuah gudang mebel yang roboh total.
“Selain merusak permukiman, angin kencang di Kecamatan Ngaglik itu juga merusak atap bangunan TK, kandang sapi dan kambing, serta menyebabkan jaringan listrik terputus,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Haris Martapa, Rabu malam.
Haris mengungkapkan, hasil pendataan petugas di lapangan, kerusakan akibat angin kencang juga meluas ke wilayah Kecamatan Gamping dan Mlati. Terdata dua rumah warga mengalami kerusakan berat akibat tertimpa pohon tumbang yang juga mengenai pagar makam di wilayah Nogotirto, Gamping.
Terjangan angin mengakibatkan kerusakan pada dua rumah di kawasan Pogung serta dua warung makan dan area parkir sebuah pusat kebugaran di Jalan Jambon yang tertimpa pohon di Mlati.
Haris menjelaskan bahwa seluruh personel telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan penanganan darurat dan penyaluran bantuan pada malam itu juga. Pihaknya memastikan pengiriman logistik peralatan bagi warga yang atap rumahnya rusak berat agar bisa segera tertangani sementara.
Sebelum kejadian puting beliung tersebut, BMKG Yogyakarta pada Rabu sore, pukul 15.50 WIB, telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah Yogyakarta. Wilayahnya meliputi Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, Kota Yogyakarta, hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Sleman.
Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Feriomex Hutagalung, menuturkan bahwa peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem diprediksi masih akan melanda wilayah Yogyakarta dalam beberapa hari ke depan. “Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini, terdapat beberapa faktor krusial yang memicu peningkatan potensi hujan di wilayah Yogyakarta,” kata dia.
Menurut Feriomex, suhu muka laut di Laut Jawa dan Samudra Hindia selatan Jawa saat ini terpantau relatif hangat, berkisar antara 29 hingga 30 derajat Celsius, yang sangat mendukung ketersediaan uap air di atmosfer. Selain itu, aktifnya gelombang equatorial Rossby turut mempengaruhi peningkatan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di sekitar wilayah Jawa.
Kondisi ini diperkuat dengan profil vertikal kelembapan udara di DIY pada ketinggian 1,0 hingga 3,0 km yang mencapai 60 hingga 95 persen, sehingga peluang pertumbuhan awan hujan masih sangat tinggi. Berdasarkan tinjauan tersebut, BMKG memprakirakan kondisi cuaca di DIY periode 30 April hingga 2 Mei 2026 akan didominasi oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain hujan, masyarakat di pesisir juga diminta waspada terhadap tinggi gelombang laut yang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4,0 meter, yang masuk dalam kategori tinggi. “Masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serta perubahan cuaca yang signifikan secara tiba-tiba, yang dapat terjadi dalam waktu singkat selama periode musim transisi ini,” ujarnya.

