Jakarta, CNN Indonesia —
Di bawah sinar matahari musim semi yang hangat pada Sabtu (2/5), ratusan pemuda Seoul di Korea Selatan, memadati taman di tepi Sungai Han.
Mereka berkumpul bukan untuk berolahraga, melainkan untuk melakukan hal yang jarang didapatkan warga Korea Selatan yang gila kerja: Tidur.
Pemerintah Metropolitan Seoul menggelar acara tahunan ketiga bertajuk “Lomba Tidur Siang” (Power Nap Contest). Syaratnya pun unik: peserta diminta mengenakan kostum ala “Putri Tidur” atau pangeran, datang dalam kondisi lelah, dan perut dalam keadaan kenyang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi kota metropolitan yang dikenal dengan pusat perbelanjaan 24 jam, budaya kerja keras yang kompetitif, dan ketergantungan pada iced Americano, rasa lelah yang terpancar dari para peserta di atas rumput taman tersebut terasa sangat nyata.
Salah seorang peserta bernama Park Jun Seok, yang merupakan mahasiswa berusia 20 tahun, mengenakan jubah sutera merah ala raja Dinasti Joseon kala mengikuti lomba tidur siang tersebut.
“Antara persiapan ujian dan kerja paruh waktu, saya hanya tidur 3-4 jam semalam. Saya di sini untuk memamerkan keahlian tidur siang saya dan menunjukkan bagaimana cara seorang raja tidur,” ujarnya, seperti dilansir The Independent.
Sementara itu, Yoo Mi Yeon (24), yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris terlihat memakai kostum onesie koala yang empuk ketika terlibat dalam lomba tidur siang itu.
“Saya menderita insomnia dan sulit tidur nyenyak. Koala terkenal dengan tidur pulasnya, saya datang berpakaian seperti ini dengan harapan bisa meminjam sedikit ‘keajaiban’ mereka,” tutur dia.
Kompetisi yang kini memasuki tahun ketiga ini menyoroti masalah serius di Korea Selatan. Data menunjukkan bahwa Korea Selatan adalah salah satu negara dengan beban kerja tertinggi dan tingkat kurang tidur paling parah di antara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).
Lalu, bagaimana pemenang lomba tidur ditentukan?
Tepat pukul 15.00 waktu setempat, saat penutup mata mulai dipasang, petugas berkeliling mengukur detak jantung peserta. Pembacaan detak jantung yang stabil menjadi indikator utama bahwa seseorang telah memasuki fase tidur yang dalam dan damai.
Pemenang lomba tidur siang di Seoul kali ini adalah seorang pria berusia 80-an tahun (namanya tidak disebutkan). Kemudian juara kedua adalah Hwang Du Seong (37), seorang karyawan kantor.
“Saya sangat lelah karena sering lembur malam dan banyak menyetir untuk pekerjaan. Saya bertekad tidur untuk mengisi ulang energi di tengah semilir angin sungai, dan beruntung bisa meraih posisi kedua,” ungkap Hwang Du Seong dengan penuh bahagia.
(wiw)
Add

as a preferred
source on Google

