Jakarta –
Motor pengangkut sampah berderet panjang di sepanjang jalan menuju Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawajati, Jakarta Selatan. Para petugas penarik sampah menunggu giliran menurunkan sampah yang telah dikumpulkan dari permukiman warga.
Namun siang itu, antrean terasa lebih panjang dari biasanya, mengular sampai ke dekat Stasiun Duren Kalibata. Bau menyengat langsung menusuk ke hidung ketika kendaraan berbelok dari arah Jalan Raya Kalibata menuju TPS Rawajati.
Di sisi kanan jalan, kendaraan pengangkut sampah berjajar. Sementara para penariknya duduk di trotoar sambil menunggu giliran. Di antara antrean panjang itu, Jenal Abidin ikut duduk bersama. Ia datang lebih siang ke lokasi sehingga kendaraannya berada jauh di urutan belakang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jenal kemudian mengajak detikcom untuk berbincang di sebuah tempat jajanan di pinggir antrean kendaraan. Sambil duduk di atas karpet kecil, pria berusia 38 tahun itu bercerita mengenai penyebab antrean panjang di TPS Rawajati.
Menurut Jenal, antrean tersebut terjadi karena adanya pembatasan kuota pembuangan sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Pembatasan itu dilakukan setelah insiden longsor di lokasi tersebut beberapa waktu lalu. Akibatnya, aktivitas bongkar muat di TPS Rawajati ikut terhambat.
Meski harus menunggu lama, Jenal tak pernah bosan menjalani pekerjaannya. Sejak bertahun-tahun lalu, ia menggantungkan hidup dari usaha pengangkutan sampah yang dijalankan secara mandiri. Setiap hari, ia berkeliling mengambil sampah dari sejumlah permukiman sebelum membawanya ke TPS Rawajati.
Pekerjaan itu memang jauh dari kata nyaman. Jenal harus berhadapan dengan bau menyengat dan cuaca yang tidak menentu. Selain itu, Jenal juga harus mengatur waktu agar sampah yang dikumpulkan bisa segera dibuang. Jika antrean panjang seperti hari itu, waktu kerjanya pun ikut tersita.
“Dampaknya emang banyak waktu terbuang kalau macet begini, seharusnya kita bisa pilah-pilah barang yang di rumah kan, sekarang jadi macet,” kata Jenal saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Jenal mulai menjadi pengangkut sampah setelah pindah dari dari Karawang ke Jakarta pada 2000. Merantau sejak usia remaja membuat pilihan pekerjaannya terbatas. Hingga akhirnya, ia menjalani pekerjaan sebagai penarik sampah.
“Saya dapat kerjaan kayak begini, syukur alhamdulillah,” ujar Jenal.
|
Jenal Abidin, Penarik Sampah di Jakarta Selatan Foto: Kanavino/detikcom
|
Awalnya Jenal mengikuti temannya yang sudah lebih dulu menjadi penarik sampah swadaya. Saat itu ia bertugas sebagai kenek membantu mengangkut sampah dari perumahan warga.
Baru kemudian pada 2008, Jenal mulai bisa menarik sampah sendiri. Saat itu ada teman yang menjual lahan penarikan sampah kepada Jenal.
Ia mengawali usahanya dari gerobak sampah. Pada 2013, ia kemudian berhasil memiliki motor tiga roda untuk mengangkut sampah.
Tiga tahun kemudian, ia kembali menambah satu armada. Motor tersebut awalnya digunakan oleh ayahnya namun kini dipakai oleh adiknya.
Setiap hari, Jenal berangkat sekitar pukul 07.30 WIB pagi untuk mengambil sampah dari rumah-rumah warga. Selesai berkeliling, Jenal biasanya langsung membawa sampah tersebut ke TPS Rawajati. Jika antrean tidak panjang, Jenal bisa pulang siang hari. Namun sebaliknya jika antrean mengular, ia baru tiba di rumah hingga malam hari.
Wilayah penarikan sampah berada mulai dari Jatipadang hingga Kalibata Tengah. Ia tak sembarang mengambil sampah dari perumahan warga karena sesama penarik sampah sudah sama-sama mengetahui wilayah masing-masing.
Dalam sehari, Jenal bisa membawa satu cator berisi sampah dengan berat kurang lebih 6 kuintal. Semua jenis sampah diangkut mulai dari sisa dapur, sampah tebangan hingga barang bekas.
Adapun uang dari penarikan sampah itu diperoleh Jenal dari warga yang menggunakan jasanya. Setiap rumah biasanya membayar sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per bulan.
Namun penghasilan Jenal tak hanya dari sana. Ia juga kerap menukarkan sampah-sampah bekas yang bisa didaur ulang menjadi uang.
“Ya dari macam dus, terus botol-botol, kayak besi-besi bekas gitu,” ujar Jenal.
Barang-barang tersebut biasanya dijual kepada pengepul di sekitar rumahnya. Harganya pun beragam sesuai barang yang dikumpulkan. Dalam seminggu, ia bisa mendapatkan sampai ratusan ribu.
Dari usaha tersebut, Jenal memperoleh penghasilan lebih dari Rp 5 juta per bulan. Pendapatan itu berasal dari jasa penarikan sampah warga serta penjualan barang bekas.
|
|
KUR BRI Bantu Usaha Berkembang
Untuk mengembangkan usaha, Jenal mulai mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI pada 2018 dengan nilai awal Rp 25 juta. Hingga kini, ia telah mengajukan pinjaman sebanyak empat kali dengan nominal yang berkisar antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta.
Dana tersebut digunakan Jenal untuk memperluas lahan penarikan sampah. Dalam usaha penarikan sampah swadaya, terdapat kebiasaan ketika seorang penarik berhenti atau pensiun, wilayah penarikannya dapat dikelola oleh orang lain dengan memberikan sejumlah uang.
“Kayak ibarat uang pesangon lah kalau kata orang-orang gedean mah,” ujar Jenal.
Besaran uang yang dibayarkan ke penarik sampah yang pensiun itu menyesuaikan pendapatan dari wilayah tersebut. Misalnya, jika sebuah wilayah menghasilkan Rp 1 juta, maka nilai pengalihannya bisa mencapai sekitar 10 kali lipat atau Rp 10 juta.
“Tapi satu kali putus. Ya, hitung-hitung uang pensiun dialah,” ujar Jenal.
Uang dari BRI itulah yang digunakan Jenal untuk menambah lahan penarikannya. Menurutnya, para penarik sampah sudah sama-sama memahami aturan tidak tertulis tersebut.
“Jadi, kalau ngambil itu, kalau narik, sama-sama tahu ini lahan kita, itu lahan Bapak. Iya, itu kan masing-masing. Nggak bisa langsung tarik aja, jadi harus bener-bener punya langganan,” kata Jenal.
Setelah wilayah penarikannya bertambah, pendapatan Jenal pun ikut meningkat. Dia mencontohkan beberapa tambahan lahan penarikan itu berada di kawasan Pasar Minggu hingga Ragunan.
Selain itu, peningkatan pendapatan itu membuat Jenal menabung. Ia juga mampu merenovasi rumahnya di kampung halaman, Karawang.
“Alhamdulillah banyak manfaatnya. Bisa ngembangin usaha untuk menambah penghasilan. Termasuk saya bisa renovasi rumah,” ujar Jenal.
Komitmen BRI Dukung UMKM
Perkembangan usaha Jenal setelah mendapatkan KUR BRI menjadi salah satu contoh dukungan permodalan bagi pelaku UMKM.
Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menegaskan komitmen BRI untuk selalu memajukan UMKM di Indonesia.
“Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga,” ujar Arbi saat ditemui di kantornya.
Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui berbagai layanan perbankan.
Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Selain itu, warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya untuk naik kelas.
“Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM,” ujar Arbi.
(knv/knv)


