Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) dan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). (Foto: Okezone.com)




JAKARTA – Pasar modal Indonesia memitigasi ancaman kejahatan siber yang terus berkembang di tengah proyeksi kerugian global akibat serangan siber yang diperkirakan mencapai sekitar USD10,5 triliun.

Upaya pencegahan dilakukan melalui Memorandum of Understanding (MoU) antara Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) dan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). Kerja sama ini bersifat strategis mengingat peran penting pasar modal dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, mengungkapkan bahwa sebagian besar kerugian tersebut berasal dari ransomware dan pelanggaran data, dengan sektor jasa keuangan, kesehatan, dan manufaktur menjadi yang paling terdampak. Akibatnya, selain kerugian finansial, sektor-sektor tersebut juga menghadapi biaya pemulihan sistem serta pertanggungjawaban hukum.

“Tentu itu belum termasuk kerusakan reputasi dari sebuah merek yang berkaitan dengan perlindungan data nasabah atau konsumen,” ujarnya, Senin (29/6/2026).

Melalui kolaborasi ini, ADIGSI akan menyiapkan Executive Cyber Resilience Assessment Program sebagai langkah awal bagi perusahaan efek untuk mengukur kesiapan sibernya. Program ini juga mencakup pendampingan bagi perusahaan efek untuk memperkuat keamanan siber serta kolaborasi pembentukan Computer Security Incident Response Team (CSIRT), yaitu tim khusus untuk mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan sistem dari insiden serangan siber di pasar modal.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version