Dominasi Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia sejauh ini belum mampu diterjemahkan menjadi kekuatan dalam menentukan harga. (Foto ;okezone.co
JAKARTA – Dominasi Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia sejauh ini belum mampu diterjemahkan menjadi kekuatan dalam menentukan harga. Namun, hasil penelitian terbaru Transisi Bersih (Financial Research Center for Clean Energy/FRCCE) menemukan adanya indikasi underpricing yang bersifat sistematis pada ekspor batu bara Indonesia. Akibatnya, batu bara Indonesia diduga dijual di bawah harga wajar setelah memperhitungkan kualitas, kandungan energi, biaya logistik, dan waktu transaksi.
Menurut Direktur Eksekutif Transisi Bersih Abdurrahman Arum, selama beberapa tahun lembaganya melakukan pengamatan, ketika Indonesia membuat kebijakan terkait nikel maupun minyak sawit mentah (CPO), harga global langsung berubah. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kekuatan untuk memengaruhi harga pasar.
“Nah, inilah yang kita tekankan. Jadi, kekuatan kita memengaruhi harga pasar ini harus dimanfaatkan, dijadikan leverage agar manfaat dari sumber daya alam lebih banyak mengalir ke dalam negeri, ke masyarakat,” ungkap Rahman, Selasa (14/7/2026).
Laporan riset Transisi Bersih berjudul “Mengurai Anomali Underpricing Ekspor Batu Bara Indonesia di Tengah Dominasi Pasar Batu Bara” menganalisis perdagangan batu bara Indonesia sepanjang 2020–2025 menggunakan pendekatan benchmark-adjusted price, perbandingan internasional, serta analisis struktur pasar global.
“Temuan utama penelitian ini sederhana, tetapi penting. Indonesia menguasai pasar batu bara kalori rendah dunia, namun belum mampu mengubah dominasi volume menjadi kekuatan harga. Akibatnya, nilai ekonomi yang diterima Indonesia tidak sebesar yang seharusnya,” ujar Muhammad Irfan Islami, peneliti Transisi Bersih sekaligus penulis laporan.


