Jakarta, CNN Indonesia —
Turis di Beijing, China “berubah” jadi kaisar-permaisuri China kuno. Bisnis sewa kostum dan makeup di lokasi-lokasi wisata pun kian berkembang. Hal ini salah satunya berkat popularitas drama China (dracin) khususnya genre drama kostum.
Turis-turis berbusana ala dracin jadi pemandangan lumrah di kawasan Kota Terlarang (Forbidden City), Beijing. Chen Jiao, salah satu penata rias yang bekerja di studio dekat Kota Terlarang sudah mendandani banyak turis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“[Kunjungan turis] bisa sangat ramai selama peak season, terutama hari libur dan akhir pekan,” kata Chen seperti dilaporkan AP.
Ia mulai bekerja pukul 6 pagi dan mendandani sekitar 24 perempuan muda dalam sehari. Tak ada kata sepi buat para penata rias. Chen berkata jeda singkat itu datang ketika Kota Terlarang tutup.
Setiap hari, pengunjung datang mengenakan jubah berhias sulaman burung phoenix dan aksesori berupa liontin giok dan mutiara. Penampilan ini disempurnakan dengan pelindung kuku emas seperti yang dikenakan kekaisaran China kuno.
Kemudian rambut tak lepas dari transformasi ini. Rambut ditata sesuai era atau dinasti yang dipilih lalu diberi hiasan.
Untuk “berubah” jadi kaisar atau permaisuri China kuno, pengunjung harus merogoh kocek rata-rata 300 yuan (hampir Rp800 ribu) atau bisa lebih dari seribu yuan (sekitar Rp2,6 juta).
Setelah berdandan, mereka ke beberapa titik di Kota Terlarang untuk berfoto atau mengambil video. Kadang pengunjung memadukan nuansa tradisional kostum dengan nuansa modern lewat kacamata hitam, sneakers, atau berfoto sambil minum bubble tea.
Beberapa tahun terakhir, terlihat tren anak-anak muda semakin tertarik dengan sejarah China khususnya kostumnya. Di Beijing, kostum terinspirasi dua dinasti terakhir yang memerintah di sana.
|
|
Dinasti Ming yang memerintah selama lebih dari 270 tahun tercatat membangun Kota Terlarang dan memperkuat Tembok Besar. Kemudian Dinasti Qing yang diperintah orang Manchu berkuasa selama lebih dari dua milenium.
“Kaum muda Tiongkok telah menemukan daya tarik estetika pakaian tradisional sambil mempelajari warisan budaya Tiongkok yang kaya,” kata Cai Zehong, pendiri Hanfu Beijing, salah satu asosiasi kostum kuno paling awal.
Tren kostum tradisional ini semakin menjamur salah satunya berkat popularitas dracin. Chen yang juga menonton banyak dracin menilai banyak yang tertarik mengenakan kostum ala era kekaisaran China kuno karena pengaruh acara-acara tersebut.
Studio tempat Chen merias hanya satu dari sekian banyak studio di sekitar Kota Terlarang. Media lokal menyebut pada 2020 hanya segelintir studio kostum yang beroperasi di sana.
Liu Ruitong, mahasiswa asal Provinsi Hebei, memilih kostum bergaya Dinasti Ming warna hitam.
“Saya rasa penampilan ini terasa sangat elegan dan bermartabat, terutama dalam palet warnanya. Saya memilih hitam karena sangat cocok dengan Kota Terlarang dan pemandangan tradisional Tiongkok pada umumnya,” kata Liu.
(els)
Add
as a preferred
source on Google



