Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Tanah Air sedang tidak baik-baik saja di sepanjang tahun ini.

Rupiah masih terus berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi cukup dalam. Di saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah ikut melonjak, menandakan harga obligasi tertekan karena investor meminta imbal hasil lebih tinggi.

Tekanan pada tiga instrumen ini menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang berhati-hati terhadap aset keuangan dalam negeri.

Di sisi lain, ada hal menarik dari laporan terbaru Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang baru saja dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada Jumat (22/5/2026). Di dalam transaksi finansial, pos investasi lainnya mencatatkan defisit yang cukup besar pada kuartal I-2026.

Investasi lainnya memang jarang dibicarakan. Namun, angkanya justru penting karena bisa menunjukkan bagaimana pergerakan dana di luar investasi langsung dan portofolio.


Defisit Investasi Lainnya Terbesar dalam 5 Tahun

Bank Indonesia mencatat pos investasi lainnya mengalami defisit US$7,80 miliar atau setara Rp138,29 triliun (asumsi kurs Rp17.730/US$1) pada kuartal I-2026.

Angka ini sangat besar. Bahkan, defisit tersebut menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2021 atau dalam hampir lima tahun terakhir, ketika investasi lainnya mencatat defisit sekitar US$7,87 miliar.

Sederhannya, investasi lainnya adalah bagian dari transaksi finansial yang mencatat arus dana selain investasi langsung, investasi portofolio, dan derivatif. Isinya bisa berupa simpanan, pinjaman, kredit perdagangan, uang muka, serta aset dan kewajiban keuangan lain antara Indonesia dan luar negeri.

Kalau investasi langsung biasanya berkaitan dengan pembangunan pabrik atau penanaman modal jangka panjang, dan investasi portofolio berkaitan dengan saham serta surat utang, maka investasi lainnya lebih banyak menggambarkan arus dana lewat simpanan, pinjaman, dan transaksi keuangan lain.

Jadi, ketika investasi lainnya mencatat defisit besar, artinya ada tekanan keluar dari pos tersebut.

Dana yang keluar atau ditempatkan ke luar negeri lebih besar dibandingkan dana yang masuk ke Indonesia lewat jalur ini.

Inilah yang membuat data kuartal I-2026 menarik. Di tengah rupiah yang melemah dan IHSG yang tertekan, ada indikasi dana dari dalam negeri juga bergerak cukup besar ke luar negeri melalui pos investasi lainnya.

Padahal, transaksi finansial sebenarnya masih mendapat penopang dari pos lain. Investasi langsung masih surplus US$2,02 miliar, sementara investasi portofolio juga masih surplus US$730 juta.

Namun, surplus dari dua pos tersebut tidak cukup menutup lubang besar dari investasi lainnya. Akibatnya, transaksi finansial secara keseluruhan tetap mencatat defisit.

Aset Jadi Biang Kerok, Dana RI Mengalir ke Luar Negeri

Jika dibedah lebih dalam, tekanan terbesar pada pos investasi lainnya berasal dari sisi aset.

Pada kuartal I-2026, aset dalam investasi lainnya mencatat defisit US$6,75 miliar atau setara Rp119,67 triliun. Ini menjadi defisit terdalam sejak kuartal III-2024, ketika pos aset mencatat defisit sekitar US$7,96 miliar.

Defisit besar pada pos aset investasi lainnya menunjukkan penduduk Indonesia menambah penempatan aset ke luar negeri.

Ini bisa mencerminkan pelaku ekonomi mencari instrumen yang dianggap lebih aman, lebih likuid, atau menawarkan peluang yang lebih menarik di luar negeri, terutama ketika pasar keuangan domestik sedang tertekan.

Kondisi ini membuat narasi bahwa pelaku ekonomi Indonesia lebih memilih menaruh aset di luar negeri menjadi relevan.


Fenomena ini terjadi ketika pasar keuangan domestik sedang berada di bawah tekanan. Rupiah melemah terhadap dolar AS, IHSG terkoreksi cukup dalam, sementara yield SBN melonjak. Dalam kondisi seperti ini, pelaku ekonomi cenderung lebih berhati-hati.

Sebagian memilih menahan likuiditas, sebagian lainnya mencari aset yang dianggap lebih aman di luar negeri.

Tekanan juga terlihat dari sisi kewajiban. Pada kuartal I-2026, kewajiban dalam investasi lainnya mencatat defisit US$1,05 miliar.

Dalam neraca pembayaran, kewajiban menggambarkan dana atau pembiayaan dari luar negeri ke Indonesia, seperti pinjaman luar negeri, simpanan, atau kewajiban keuangan lainnya. Ketika pos ini defisit, artinya arus dana masuk dari luar negeri melalui jalur tersebut tidak cukup kuat, atau terdapat pembayaran kewajiban kepada pihak luar negeri.

Gabungan defisit pada sisi aset dan kewajiban membuat investasi lainnya tertekan dalam. Aset mencatat defisit US$6,75 miliar, sementara kewajiban defisit US$1,05 miliar. Secara keseluruhan, investasi lainnya mencatat defisit US$7,80 miliar pada kuartal I-2026.

Data ini menunjukkan tekanan pasar keuangan Indonesia tidak hanya berasal dari investor asing yang keluar dari saham atau surat utang. Ada tekanan lain yang juga perlu dicermati, yakni meningkatnya penempatan aset penduduk Indonesia ke luar negeri.

Penyebab Orang Indonesia Makin Melirik Aset di Luar Negeri

Ada beberapa alasan mengapa pelaku ekonomi domestik makin tertarik menempatkan asetnya di luar negeri, terutama ketika pasar keuangan dalam negeri sedang tertekan.

1. Risiko Aset Luar Negeri Dinilai Lebih Terukur

Saat pasar keuangan domestik melemah, sebagian pelaku ekonomi cenderung mencari tempat yang dianggap lebih aman untuk menyimpan atau mengembangkan asetnya.

Aset luar negeri, terutama di negara yang pasar keuangannya lebih stabil seperti Singapura dan Malaysia, dianggap memiliki risiko yang lebih terukur. Keduanya juga dekat secara geografis dan sudah lama menjadi tujuan penempatan dana maupun investasi regional.

Penguatan dolar Singapura dan ringgit Malaysia terhadap rupiah juga ikut memperkuat daya tarik tersebut. Ketika nilai tukar negara tetangga lebih stabil atau bahkan menguat terhadap rupiah, aset dalam mata uang tersebut terlihat lebih menarik bagi pelaku ekonomi domestik.

2. Akses Investasi Global Makin Mudah

Faktor lain adalah kemudahan akses. Saat ini, investor dalam negeri tidak lagi harus membuka rekening langsung di luar negeri untuk membeli aset global. Sudah banyak platform investasi yang menawarkan akses ke saham luar negeri, termasuk saham-saham yang tercatat di Wall Street. Artinya, masyarakat bisa membeli saham perusahaan global hanya melalui aplikasi.

Kemudahan ini membuat investasi luar negeri tidak lagi hanya menjadi pilihan kelompok kaya atau korporasi besar. Investor ritel pun kini memiliki akses lebih luas untuk melakukan diversifikasi ke aset global.

3. Bursa Luar Negeri Lebih Likuid dan Emitennya Menarik

Bursa luar negeri, terutama Wall Street, juga punya daya tarik besar dari sisi likuiditas dan pilihan emiten.

Pasar saham Amerika Serikat berisi banyak perusahaan global dengan pertumbuhan tinggi, terutama di sektor teknologi. Nama-nama besar seperti Nvidia, Microsoft, Apple, Amazon, hingga Google menjadi contoh emiten yang banyak dilirik karena bisnisnya terkait dengan tren besar seperti kecerdasan buatan (AI), Cloud Computing, semikonduktor, dan ekonomi digital.

Di tengah pasar domestik yang sedang tertekan, aset global semacam ini bisa terlihat lebih menarik. Bagi sebagian investor, menaruh dana di luar negeri bukan hanya soal mencari cuan, tetapi juga cara untuk menyebar risiko dan menjaga nilai aset.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Add



as a preferred

source on Google






Source link

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version