Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), melalui PT Danantara Investment Management (DIM) telah menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat secara perdana.
Langkah ini menjadi ujian penting terhadap minat investor asing terhadap aset Indonesia di tengah meningkatnya tantangan ekonomi domestik.
Mengutip Business Times berdasarkan dokumen pemasaran Reuters menyebutkan, obligasi tersebut memiliki dua tenor, yaitu 5 dan 10 tahun. Masing-masing seri ditargetkan menghimpun dana sekitar US$500 juta, sehingga total nilai penerbitan berpotensi mencapai US$1 miliar.
Dalam proses bookbuilding, Danantara menetapkan panduan harga akhir (final price guidance) sebesar 5,35% untuk obligasi tenor 5 tahun, dan 5,95% untuk tenor 10 tahun. Tingkat imbal hasil tersebut lebih rendah 35 basis poin dibandingkan indikasi awal yang berada di kisaran 5,7% untuk tenor lima tahun dan sekitar 6,3% untuk tenor 10 tahun.
Penerbitan surat utang global tersebut berlangsung pada periode yang krusial bagi Indonesia. Sejumlah investor asing masih mencermati perkembangan ekonomi nasional, terutama setelah nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, berbagai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai ekspansif turut menjadi perhatian pasar dalam mengukur profil risiko investasi di Indonesia.
Sebagai respons terhadap pelemahan mata uang domestik, Bank Indonesia sebelumnya mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Tujuannya, untuk menjaga stabilitas rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.
Kekhawatiran juga semakin meningkat terkait perluasan mandat Danantara, yang mana pengelola kekayaan perusahaan pelat merah tersebut baru-baru ini ditugaskan untuk menjadi eksportir tunggal minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy mulai September mendatang melalui unit yang baru dibentuk.
Dari sisi valuasi, imbal hasil obligasi Danantara berada di atas obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS yang jatuh tempo pada 2036, yang terakhir diperdagangkan di level 5,6%. Sementara itu, obligasi dolar AS milik PT Pertamina dengan tenor hingga 2031 tercatat menawarkan yield sekitar 5,27%, berdasarkan data LSEG.
Nantinya, hasil penjualan obligasi dolar AS akan digunakan untuk keperluan korporasi umum, termasuk investasi dan refinancing utang yang ada
Obligasi tersebut diterbitkan dalam kerangka program Global Medium-Term Notes (GMTN) senilai US$5 miliar dan diperkirakan akan mendapat peringkat “Baa2” dari Moody’s serta “BBB” dari S&P dan Fitch.
Sementara perusahaan yang ditunjuk sebagai joint bookrunners dan joint lead managers untuk transaksi ini adalah Citigroup, DBS, HSBC, Mandiri Securities, dan Standard Chartered.
(ayh/ayh)
Add
as a preferred
source on Google

