Co-parenting adalah pola pengasuhan yang semakin banyak diterapkan oleh orang tua setelah perceraian. Meski hubungan sebagai pasangan telah berakhir, peran sebagai ayah dan ibu tetap berlangsung seumur hidup.
Sayangnya, tidak semua orang tua mampu menjaga komunikasi dan kerja sama yang baik setelah berpisah. Padahal, anak tetap membutuhkan dukungan, kasih sayang, dan kehadiran kedua orang tuanya dalam proses tumbuh kembang.
Cara orang tua menyikapi perubahan dalam keluarga juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Karena itu, memahami konsep co-parenting menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan mendukung bagi anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Verywell Mind, berikut pengertian, jenis, dan tips menerapkan co-parenting yang baik demi kepentingan anak.
Apa itu co-parenting?
Secara sederhana, co-parenting adalah bentuk pengasuhan di mana kedua orang tua tetap bekerja sama dalam membesarkan anak meski tidak lagi menikah atau menjalin hubungan romantis. Dalam sistem ini, kedua orang tua berbagi tanggung jawab terkait pendidikan, kesehatan, kebutuhan emosional, hingga aktivitas sehari-hari anak.
Fokus utama co-parenting bukanlah hubungan antara mantan pasangan, melainkan kesejahteraan anak. Menurut psikolog klinis Sabrina Romanoff, hubungan yang kooperatif dan saling menghormati setelah perpisahan dapat memberikan contoh positif bagi anak.
Sikap tersebut membantu anak merasa lebih aman sekaligus mendukung perkembangan sosial dan emosionalnya dalam jangka panjang. Di tengah meningkatnya jumlah keluarga dengan orang tua yang berpisah, co-parenting menjadi salah satu solusi untuk memastikan kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Jenis-jenis co-parenting
Peneliti mengidentifikasi beberapa pola hubungan co-parenting yang umum terjadi setelah perceraian atau perpisahan.
1. Conflict co-parenting
Jenis ini ditandai dengan konflik yang kerap terjadi antara kedua orang tua. Komunikasi biasanya berjalan kurang baik dan masing-masing pihak memiliki aturan, jadwal, maupun pola asuh yang berbeda.
Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa terjebak di tengah pertengkaran orang tuanya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan dalam pengasuhan dapat meningkatkan risiko masalah perilaku, kecemasan, depresi, hingga tekanan psikologis pada anak.
2. Cooperative co-parenting
Cooperative co-parenting merupakan bentuk pengasuhan bersama yang paling ideal. Dalam pola ini, kedua orang tua mampu berkomunikasi dengan baik, saling berbagi informasi mengenai perkembangan anak, serta bekerja sama dalam mengambil keputusan penting.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini umumnya merasakan suasana yang lebih stabil dan konsisten. Penelitian juga menunjukkan bahwa pola pengasuhan kooperatif berkaitan dengan meningkatnya rasa percaya diri, prestasi akademik yang lebih baik, serta kesehatan mental yang lebih positif.
3. Parallel co-parenting
Parallel co-parenting terjadi ketika kedua orang tua menjalankan pengasuhan secara terpisah dengan komunikasi yang sangat minim. Meski konflik tidak terlalu terlihat, kerja sama di antara keduanya juga hampir tidak ada.
Aturan dan rutinitas di masing-masing rumah tangga sering kali berbeda sehingga anak harus menyesuaikan diri dengan dua lingkungan yang tidak selalu selaras. Namun, model ini terkadang menjadi pilihan ketika komunikasi langsung berpotensi memicu konflik yang lebih besar.
Perlu dipahami bahwa bentuk co-parenting dapat berubah seiring waktu. Hubungan yang awalnya penuh konflik bisa berkembang menjadi lebih kooperatif apabila kedua pihak berkomitmen mengutamakan kebutuhan anak.
Baca lanjutannya di halaman berikut..
Add

as a preferred
source on Google

