Close Menu
    What's Hot

    AI Bisa Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto : Okezone Economy

    June 29, 2026

    Pria Nyaris Tewas Diamuk Massa Saat Hendak Bobol Minimarket di Serang

    June 29, 2026

    ATR BPN Percepat Administrasi Hibah Lahan 30 Hektare di Kawasan Meikarta : Okezone Economy

    June 29, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Lifestyle
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Portal Media NusantaraPortal Media Nusantara
    • Nasional
    • Lifestyle
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Dewanpers
    Subscribe
    Portal Media NusantaraPortal Media Nusantara
    Home » Pakar Ungkap Penyebab Eropa Dihantam Gelombang Panas Terparah
    Teknologi

    Pakar Ungkap Penyebab Eropa Dihantam Gelombang Panas Terparah

    karinaBy karinaJune 29, 2026No Comments4 Mins Read
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email


    Jakarta, CNN Indonesia —

    Eropa dilanda gelombang panas terparah dalam sejarah. Para ilmuwan menyebut fenomena ini kemungkinan besar terjadi karena krisis iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil.

    Hampir separuh dari 850 kota besar di Eropa kini menghadapi kondisi tingkat stres panas tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini terjadi karena tingginya tingkat kelembapan udara, yang membuat keringat menjadi kurang efektif mendinginkan tubuh, sehingga gelombang panas jadi jauh lebih berbahaya bagi kesehatan.

    Analisis ini dirilis ketika Inggris mengalami rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni, yakni 36,7 derajat Celsius di Somerset pada Kamis (25/6). Sementara itu, sebagian besar wilayah Eropa Barat melaporkan lonjakan drastis dalam kasus darurat medis, bahkan beberapa di antaranya berujung pada kematian.


    ADVERTISEMENT


    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Analisis terbaru dari konsorsium World Weather Attribution (WWA) menunjukkan betapa cepatnya cuaca ekstrem memburuk seiring menumpuknya polusi karbon di atmosfer Bumi. Sebagai perbandingan, jika gelombang panas seperti sekarang terjadi pada 2003, suhunya akan 2 derajat Celsius lebih rendah, karena pemanasan global saat itu belum separah sekarang.

    Bahkan, jika dibandingkan dengan gelombang panas paling bersejarah tahun 1976, suhu saat itu masih 3,5 derajat Celsius lebih sejuk dari fenomena saat ini. Selain itu, suhu malam hari yang sangat menyengat, kini berisiko 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding pada 2003.





    Para ilmuwan memperingatkan tanpa tindakan nyata dan mendesak untuk mengatasi krisis iklim, kondisi di masa depan akan jauh lebih ekstrem. Bahkan, musim panas tahun ini yang dianggap sangat menyiksa bisa jadi akan terasa ‘sejuk’ jika dibanding dengan masa depan.

    “Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” kata Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, yang juga bagian dari tim WWA, melansir The Guardian, Senin (29/6). 

    “Kami menemukan bahwa dalam 50 tahun terakhir, ketika Bumi memanas sebesar 1,1 derajat Celsius, peluang terjadinya gelombang panas seperti ini melonjak drastis. Fenomena ini mustahil terjadi di bulan Juni tanpa perubahan iklim,” lanjut dia.

    Untuk mengukur dampak nyata dari kelembapan yang tinggi, para ilmuwan menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Menurut Keeping, indikator ini mengukur kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan dirinya sendiri.

    Menanggapi hasil analisis WWA, Kepala Iklim PBB Simon Stiel menegaskan bahwa krisis iklim semakin tidak terkendali. Ia menuding bahwa hal ini terjadi karena ketergantungan dunia pada batu bara, minyak, dan gas Bumi.

    “Namun, solusinya sebenarnya sudah jelas: kita harus mempercepat transisi ke energi bersih, yang kini jauh lebih murah daripada bahan bakar fosil, serta melindungi hutan dan membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim,” kata Stiel.

    Bukan karena El Nino

    Dalam studinya, WWA menggunakan data suhu riil dan prakiraan cuaca yang akurat untuk menganalisis periode tiga hari terpanas di wilayah Eropa yang saat ini terjebak di bawah fenomena kubah panas atau heat dome. Menguji data dengan metode ilmiah yang ketat, mereka memastikan bahwa krisis iklim adalah dalang utama di balik panas ekstrem saat ini.

    Mereka juga membantah bahwa ini adalah variasi cuaca alami, termasuk menepis anggapan bahwa fenomena ini disebabkan variasi alami cuaca, termasuk pengaruh El Nino yang sedang berkembang di Samudra Pasifik.

    Menurut para ilmuwan, sistem tekanan tinggi yang menahan udara panas di Eropa dan menarik angin hangat dari Gurun Sahara sebenarnya adalah pola cuaca yang lumrah terjadi di musim panas. Namun, suhu panasnya menjadi berkali-kali lipat lebih ekstrem karena didorong oleh pemanasan global.

    Carolina Pereira Marghinda dari Red Cross Red Crescent Climate Centre menyebut bahwa banyak negara sudah berinvestasi pada sistem peringatan dini dan rencana mitigasi, usai gelombang panas dahsyat di Eropa pada 2003. Langkah ini terbukti menyelamatkan banyak nyawa, tapi kini upaya tersebut dirasa tidak lagi memadai.

    Menurutnya, suhu panas yang semakin intens ini mulai melumpuhkan sektor kesehatan, transportasi, sistem energi, dan kehidupan sehari-hari.

    “Kita membutuhkan investasi yang lebih besar untuk membangun rumah, kota, dan infrastruktur yang tahan panas agar masyarakat tetap aman,” jelas Marghidan.

    (dmi)


    Add

    as a preferred
    source on Google




    [Gambas:Video CNN]

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Previous ArticleJenal Mengais Rezeki dari Sampah Jakarta, Usaha Berkembang Berkat KUR BRI
    Next Article ATR BPN Percepat Administrasi Hibah Lahan 30 Hektare di Kawasan Meikarta : Okezone Economy
    karina

    Related Posts

    Teknologi

    Manohara Bongkar Dampak Lingkungan Rusak ke Masyarakat Adat

    June 28, 2026
    Teknologi

    Pendiri Stripe: Gen Z Perlu Punya 2 Ijazah untuk Survive di Era AI

    June 27, 2026
    Teknologi

    Huawei Luncurkan MatePad Mini, Diklaim Tertipis dan Teringan di Dunia

    June 26, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Economy News
    Nasional

    AI Bisa Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto : Okezone Economy

    adminJune 29, 2026

    AI Bisa Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto. (Foto: Okezone.com/Freepik) JAKARTA -…

    Pria Nyaris Tewas Diamuk Massa Saat Hendak Bobol Minimarket di Serang

    June 29, 2026

    ATR BPN Percepat Administrasi Hibah Lahan 30 Hektare di Kawasan Meikarta : Okezone Economy

    June 29, 2026
    Top Trending
    Nasional

    AI Bisa Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto : Okezone Economy

    adminJune 29, 2026

    AI Bisa Jadi Risiko Terbesar Keamanan Aset Kripto. (Foto: Okezone.com/Freepik) …

    Nasional

    Pria Nyaris Tewas Diamuk Massa Saat Hendak Bobol Minimarket di Serang

    adminJune 29, 2026

    Serang – Seorang pria nyaris tewas diamuk massa saat diduga hendak membobol…

    Nasional

    ATR BPN Percepat Administrasi Hibah Lahan 30 Hektare di Kawasan Meikarta : Okezone Economy

    adminJune 29, 2026

    ATR/BPN Percepat Administrasi Hibah Lahan 30 Hektare di Kawasan Meikarta. (Foto: Okezone.com/Freepik)…

    Subscribe to News

    Get the latest sports news from NewsSite about world, sports and politics.

    Advertisement
    Demo
    Demo
    Top Posts

    Ahmad Dedi Bantah Tudingan Lari Hindari Wartawan karena Diduga Terlibat Suap

    May 10, 20267 Views

    Grab For Business Permudah Operasional Perusahaan di Era Bisnis yang Makin Kompleks : Okezone Economy

    June 19, 20265 Views

    Pasokan Avtur untuk Penerbangan Bali dan Nusa Tenggara Diperkuat : Okezone Economy

    June 17, 20264 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews

    Subscribe to Updates

    Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

    Demo

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.