Jakarta, CNN Indonesia

Pernahkah Anda menyadari bahwa letak kancing baju pria dan wanita berbeda? Banyak orang baru menyadari hal ini ketika tanpa sengaja mengenakan pakaian milik pasangan, saudara, atau anggota keluarga yang berbeda jenis kelamin.

Faktanya, letak kancing baju wanita dan pria memang berbeda. Hal ini telah menjadi standar dalam industri fesyen selama ratusan tahun.



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbedaan ini bukan sekadar soal desain, melainkan memiliki latar belakang sejarah, budaya, hingga kebiasaan yang terus bertahan hingga sekarang.

Menariknya, aturan tersebut tidak berasal dari pertimbangan estetika semata. Ada berbagai teori yang menjelaskan mengapa letak kancing baju wanita dan pria berbeda, mulai dari kebutuhan militer, tradisi kalangan bangsawan Eropa, hingga proses produksi massal pada era Revolusi Industri.

Meskipun saat ini banyak pakaian unisex mulai bermunculan, sebagian besar merek fesyen masih mempertahankan aturan lama tersebut. Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah di balik perbedaan ini?

Letak kancing baju wanita dan pria berbeda

Dilansir dari Reader’s Digest, berikut alasan letak kancing baju pria dan wanita berbeda yang perlu diketahui.

1. Awalnya belum ada aturan baku

Kancing sebenarnya sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu. Namun, aturan mengenai posisi kancing berdasarkan jenis kelamin baru mulai berkembang pada abad ke-17 dan ke-18.

Saat itu, sebagian besar pakaian dibuat secara khusus sesuai pesanan sehingga penempatan kancing belum memiliki standar yang benar-benar seragam.

Perubahan mulai terjadi ketika industri pakaian berkembang dan produksi massal menjadi lebih umum pada akhir abad ke-19.Sejak saat itu, posisi kancing mulai dibakukan dan diterapkan secara luas.

2. Pakaian pria dirancang untuk kemudahan penggunaan

Ilustrasi. Ada alasan dibalik letak kancing baju pria dan wanita yang berbeda. (Istockphoto/lolostock)

Salah satu alasan utama mengapa letak kancing baju wanita dan pria berbeda berkaitan dengan faktor praktis. Sebagian besar orang menggunakan tangan kanan sebagai tangan dominan.

Pada masa lalu, pria sering membawa senjata atau perlengkapan yang perlu diakses dengan cepat. Karena itu, kancing pada pakaian pria ditempatkan di sisi kanan agar lebih mudah dibuka atau ditutup menggunakan tangan dominan. Penempatan ini dianggap lebih efisien dan mendukung mobilitas.

3. Wanita bangsawan dibantu pelayan saat berpakaian

Teori yang paling banyak diterima berkaitan dengan kehidupan kalangan bangsawan Eropa.

Pada abad ke-17 dan ke-18, wanita dari keluarga kaya umumnya tidak mengenakan pakaian sendiri. Mereka dibantu oleh pelayan pribadi yang bertugas mengenakan dan mengancingkan pakaian.

Karena pelayan berdiri menghadap majikannya, posisi kancing di sisi kiri dianggap lebih memudahkan proses mengancingkan pakaian menggunakan tangan kanan. Dari sinilah tradisi tersebut berkembang dan terus diwariskan hingga sekarang.

Simak alasan letak kancing baju pria dan wanita berbeda lainnya di halaman berikutnya..

4. Pakaian wanita dulu jauh lebih rumit

Pada masa lalu, busana wanita terdiri dari banyak lapisan, seperti korset, rok bertumpuk, dan pakaian dalam yang kompleks. Proses berpakaian sering kali membutuhkan bantuan orang lain.

Karena desain pakaian sudah dibuat dengan mempertimbangkan keberadaan pelayan, posisi kancing di sisi kiri pun dipertahankan sebagai bagian dari konstruksi pakaian yang dianggap paling praktis saat itu.

5. Teori yang berkaitan dengan menunggang kuda

Beberapa sejarawan fesyen juga mengemukakan teori lain yang menarik. Dahulu, wanita bangsawan sering menunggang kuda dengan posisi kedua kaki berada di satu sisi pelana atau dikenal sebagai sidesaddle.

Dalam posisi tersebut, arah angin saat berkuda diduga dapat membuat pakaian lebih mudah terbuka jika kancing ditempatkan seperti pada pakaian pria. Karena itu, posisi kancing diyakini diubah untuk mengurangi risiko tersebut.

6. Teori yang mengaitkan Napoleon

Selain itu, ada pula teori populer yang menghubungkan perbedaan posisi kancing dengan Napoleon Bonaparte. Konon, Napoleon sering digambarkan berpose dengan tangan kanan masuk ke dalam jasnya.

Menurut cerita yang beredar, ia tidak menyukai wanita yang meniru atau mengejek pose tersebut sehingga memerintahkan agar posisi kancing pakaian wanita dibuat berbeda. Meski teori ini menarik, sebagian besar sejarawan menganggapnya lebih sebagai legenda daripada fakta sejarah.

7. Revolusi industri membuat tradisi ini bertahan

Ketika produksi pakaian dilakukan secara massal, pabrik membutuhkan standar yang konsisten agar proses manufaktur lebih efisien. Akibatnya, aturan posisi kancing yang sudah berkembang sebelumnya ikut diadopsi dalam pola produksi.

Sejak saat itu, standar tersebut terus digunakan oleh industri fesyen di berbagai negara dan menjadi kebiasaan yang sulit diubah.

Pada akhirnya, letak kancing baju wanita dan pria berbeda bukan karena alasan mode semata. Perbedaan tersebut merupakan warisan sejarah yang dipengaruhi oleh budaya bangsawan, kebutuhan praktis, hingga perkembangan industri pakaian. 

Meskipun zaman telah berubah, tradisi ini masih bertahan dan menjadi salah satu fakta menarik yang sering luput dari perhatian banyak orang.



Add

as a preferred
source on Google










Source link

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version